Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:
كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إذا تلاقَوا تصافحوا، وإذا قدِموا من سفر تعانقوا
“Biasanya para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika saling bertemu mereka bersalaman. Namun jika mereka datang dari safar, mereka saling berpelukan“ (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath, di shahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.2647).
Dari Wahb bin Abdillah radhiallahu’anhu, ia berkata:
لما قدم جعفر بن أبي طالب من هجرة الحبشة، تلقَّاه النبي صلى الله عليه وسلم فعانقه، وقبَّل ما بين عينيه
“Ketika Ja’far bin Abi Thalib kembali dari hijrah ke Habasyah, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menyambutnya, memeluknya, dan mencium keningnya” (HR. Ath Thabarani, dihasankan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.2667).
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu:
ولما رحل جابر بن عبدالله رضي الله عنه إلى عبدالله بن أنيس رضي الله عنه شهرًا إلى مصر خرج عبدالله بن أنيس رضي الله عنه، واعتنق كل منهما الآخر
“Ketika Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu melakukan perjalanan selama sebulan ke Mesir untuk menemui Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Unais keluar menyambutnya, dan keduanya saling berpelukan” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dihasankan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah [6/303]).
Al Baghawi rahimahullah menjelaskan:
فأما المكروه من المعانقة والتقبيل، فما كان على وجه المَلَقِ (الزيادة في التودد)، والتعظيم، وفي الحضر، فأما المأذون فيه، فعند التوديع، وعند القدوم من السفر، وطول العهد بالصاحب، وشدة الحب في الله، وإنما كُره ذلك في الحضر فيما يرى؛ لأنه يكثر، ولا يستوجبه كلُّ أحد، فإنْ فَعَلَهُ الرجل ببعض الناس دون بعض، وَجَدَ عليه الذين تركهم، وظنوا أنه قصَّر بحقوقهم، وآثر عليهم، وتمام التحية المصافحةُ
“Adapun pelukan dan ciuman yang dimakruhkan adalah yang dilakukan dengan maksud berlebihan dalam menunjukkan kasih sayang atau untuk mengagungkan. Atau dilakukan dalam kondisi muqim (bukan safar). Sedangkan berpelukan yang diperbolehkan adalah saat berpisah untuk safar, atau datang dari safar, atau setelah lama tidak bertemu dengan sahabat, atau karena cinta yang mendalam karena Allah. Dimakruhkan pelukan dan ciuman dalam kondisi tidak safar, sebagaimana anda ketahui, karena hal itu bisa menjadi terlalu sering dan tidak setiap orang berhak mendapatkannya. Jika seseorang melakukannya kepada sebagian orang tetapi tidak kepada yang lain, maka yang tidak dipeluk akan merasa tersinggung dan mengira dirinya diabaikan atau haknya dikurangi. Penghormatan yang sempurna adalah dengan bersalaman” (Syarhus Sunnah, 12/293).
Dari penjelasan di atas dianjurkan untuk berpelukan pada 4 keadaan:
- Ketika datang dari safar
- Ketika berpamitan untuk safar
- Ketika bertemu dengan teman yang lama tidak bertemu
- Ketika ingin menunjukkan rasa cinta yang mendalam kepada seseorang
Berpelukan di sini tentunya berpelukan dengan orang-orang yang dibolehkan seperti sesama jenis, dengan suami atau istri, atau dengan orang-orang yang termasuk mahram.
Adapun mengenai cara berpelukannya, ini kembali kepada ‘urf (kebiasaan) masing-masing masyarakat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
هي من الأمور التي يُتبع فيها العرف إذا كان فيها جلبُ مودة، وقد اعتاد الناس اليوم أنهم يتعانقون عند اللقاء بعد الأسفار، ويتعانقون أيضًا عند الوداع في الأسفار؛ فهي من الأمور التي تكون حسب العادة
“Cara berpelukan termasuk dalam perkara yang mengikuti adat setempat, jika memang dengan berpelukan akan menyebabkan terciptanya kasih sayang. Saat ini, orang-orang terbiasa saling berpelukan ketika bertemu setelah melakukan safar, dan juga berpelukan saat berpamitan untuk safar. Maka, hal ini termasuk perkara yang kembali kepada kebiasaan masyarakat setempat” (Liqa’us Syahri, no.13).
Wallahu a’lam.






Leave a comment