Pertanyaan:
Apa yang menyebabkan adanya akidah shahihah (akidah yang benar) dan akidah yang menyimpang?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjawab:
هذا سؤالٌ عجيب! يعني إذاً قل: ما السبب في وجود مؤمنين وكافرين؟ ما السبب في وجود فاسقين ومعتدلين؟ ونقول: السبب في ذلك أن هذه حكمة الله عز وجل، كما قال تعالى: (هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ) . وقال تعالى: (وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً) . أي: على دينٍ واحد وعقيدة واحدة،ولكن: (وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (١١٨) إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ)
Ini adalah pertanyaan yang mengherankan! Jika maksud pertanyaan adalah: Apa sebab adanya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir? Apa sebab adanya orang-orang fasik dan orang-orang yang lurus? Maka kami katakan: Sebabnya karena hikmah (kebijaksanaan) Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya) : “Dialah yang menciptakan kalian, maka di antara kalian ada yang kafir dan di antara kalian ada yang beriman” (QS. At Taghabun: 2). Dan firman-Nya juga (yang artinya) : “Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia umat yang satu (dalam agama dan keyakinan)”. (QS. Hud: 118) Maksudnya: dalam satu agama dan satu akidah, akan tetapi: “Mereka senantiasa berselisih kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Dia menciptakan mereka.” (QS. Hud: 118).
ولولا هذا الاختلاف لكان خلق الجنة والنار عبثاً؛ لأن النار تحتاج إلى أهل والجنة تحتاج إلى أهل، فلا بد من الاختلاف. لكن ينبغي أن يقول: ما هو الضابط في العقيدة الصحيحة وفي العقيدة الفاسدة؟ وجوابنا على هذا أن نقول: ما كان موافقاًً لما كان عليه النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم وأصحابه فهو عقيدةٌ صحيحة، وما كان مخالفاً لهم فهو عقيدةٌ فاسدة
Seandainya tidak ada perbedaan akidah di antara manusia, maka penciptaan surga dan neraka menjadi sesuatu yang sia-sia. Karena neraka membutuhkan penghuni, dan surga pun membutuhkan penghuni, maka perbedaan akidah itu pasti ada. Akan tetapi, yang seharusnya ditanyakan adalah: Apa patokan untuk mengetahui akidah yang benar dan akidah yang rusak? Jawaban kami atas pertanyaan ini adalah: Apa yang sesuai dengan ajaran Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam beserta para sahabatnya, maka itu adalah akidah yang benar. Dan apa yang bertentangan dengan mereka, maka itu adalah akidah yang rusak.
وكذلك يقال في الأعمال البدنية: ما كان موافقاً لما كان عليه النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم وأصحابه فهو عملٌ صالح، وما لم يكن كذلك فهو عملٌ فاسد، وهذا هو الذي ينبغي أن نسأل عنه، وينبغي أن نبحث: هل نحن في عقيدتنا، هل نحن في أعمالنا موافقون لما كان عليه النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم وأصحابه أم مخالفون؟!!
Demikian pula kaidah ini berlaku dalam hal amal perbuatan lahiriah. Yaitu apa yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya, maka itu adalah amalan yang shalih. Dan apa yang tidak demikian, maka itu adalah amalan yang rusak. Inilah yang seharusnya kita tanyakan, dan yang seharusnya kita teliti: Apakah kita, dalam akidah kita, dan dalam amal perbuatan kita, sudah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya, atau justru bertentangan?!!
(Fatawa Nurun ‘alad Darbi, juz 2 hal.2).






Leave a comment