Allah Ta’ala mensyaratkan bolehnya tayamum dengan syarat:
فَلَمْ تَجِدُوا مَاء
“Dan ia tidak menemukan air” (QS. an-Nisa: 43).
Maka wajib untuk memastikan ketiadaan air terlebih dahulu sebelum melakukan tayamum. al-Allamah al-Hijawi dalam Zadul Mustaqni mengatakan:
ويجب طلب الماء في رحله وقربه
“Dan wajib mencari air pada perbekalannya dan lingkungan sekitarnya”.
al-Buhuti rahimahullah menjelaskan perkataan di atas:
(ويجب) على من عدم الماء إذا دخل وقت الصلاة (طلب الماء في رحله) بأن يفتش في رحله ما يمكن أن يكون فيه (و) في (قربة) بأن ينظر وراءه وأمامه وعن يمينه وعن شماله، فإن رأى ما يشك معه في الماء قصده فاستبرأه ويطلبه من رفيقه، فإن تيمم قبل طلبه لم يصح ما لم يتحقق عدمه
“Dan wajib bagi orang yang tidak menemukan air ketika masuk waktu salat untuk mencari air di dalam perbekalannya, yaitu dengan memeriksa barang-barangnya yang memungkinkan terdapat air di dalamnya. Dan (wajib pula mencarinya) di qirbah (kantong air). Wajib mencari air dengan melihat ke belakang, ke depan, ke kanan, dan ke kiri. Jika ia melihat sesuatu yang membuatnya ragu apakah itu air atau bukan, hendaknya ia mendatanginya dan memastikannya. Ia juga harus bertanya kepada temannya yang bepergian bersamanya. Jika ia bertayamum sebelum mencarinya, maka tayamumnya tidak sah selama ia belum memastikan benar-benar bahwa air tidak ada” (ar-Raudhul Murbi’ Syarah Zadul Mustaqni, hal. 46).
Kewajiban mencari air terlebih dahulu dan memastikan ketiadaan air sebelum tayamum ini adalah pendapat jumhur ulama, dari Hanabilah, Syafi’iyah dan Malikiyah,
Dan tidak ada batasan jarak tertentu dalam kewajiban mencari air, namun kembali kepada ‘urf. Disyariatkan ada upaya untuk mencari air dan memastikan ketiadaan air dengan upaya yang dianggap wajar menurut ‘urf. Ketika seseorang sudah berupaya memastikan dengan upaya yang wajar, dan ia tetap tidak menemukan air, barulah dibolehkan tayamum.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan:
إذا كان أناسٌ في البرِّيَّة وليس عندهم ماء، فإنَّهم يُعذَرونَ بالتيمُّم إذا كان يَشُقُّ عليهم طلَبُ الماء، والعِبرةُ في ذلك العُرْف، أعني: ما جرَت العادةُ، أو ما قال النَّاس: إنَّه بعيدٌ، فإنَّه بعيد، وما قال النَّاس: إنَّه قريبٌ، فهو قريب، أي: ليس فيه حدٌّ شرعيٌّ
“Jika ada sekelompok orang berada di padang pasir dan mereka tidak memiliki air, maka mereka diberi keringanan untuk bertayamum apabila berat bagi mereka untuk berusaha mencari air. Patokan dalam hal ini adalah ‘urf (kebiasaan masyarakat). Maksudnya: sesuatu yang menurut urf dianggap jauh, maka itu dihukumi jauh; dan sesuatu yang menurut urf dianggap dekat, maka itu dihukumi dekat. Artinya, tidak ada batasan syar‘i yang pasti dalam menentukan jauh dan dekatnya jarak pencarian air” (Liqa Babil Maftuh, no.2).
Wallahu a’lam.
Fawaid Kangaswad | Support Ma’had : trakteer.com/kangaswad






Leave a comment