Orang yang tidak memiliki pakaian atau pakaian yang ia miliki tidak menutup auratnya dengan sempurna, maka ia tetap wajib shalat dengan pakaian yang seadanya tersebut. Shalatnya sah dan ia tidak perlu mengulangnya lagi jika setelah itu ia mendapatkan pakaian yang sempurna.
Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan:
وكذلك العُريان: كالذي تنكسِر به السَّفينة، أو يأخذ القطَّاع ثيابَه؛ فإنَّه يُصلِّي عريانًا، ولا إعادةَ عليه باتِّفاق العلماء
“Demikian pula orang yang telanjang (tidak punya pakaian). Seperti orang yang kapalnya pecah atau orang yang pakaiannya dirampas para perampok, maka dia tetap shalat dalam keadaan tanpa pakaian, dan tidak wajib mengulanginya menurut kesepakatan para ulama.” (Majmu al-Fatawa, 21/224).
An-Nawawi rahimahullah berkata:
إذا عَدِم السُّترةَ الواجبة فصلَّى عاريًا، أو ستَر بعض العورة وعجز عن الباقي، وصلَّى، فلا إعادةَ عليه، سواء كان من قوم يعتادون العُري، أم غيرهم، وحَكى الخُراسانيُّون فيمن لا يَعتادون العري وجهًا أنَّه يجب الإعادة… وهو ضعيفٌ ليس بشيء، وقد قال الشيخ أبو حامد في التعليق: لا أعلم خلافًا بين المسلِمين أنَّه لا يجب الإعادةُ على مَن صلَّى عاريًا للعجز عن السُّترة
“Apabila seseorang tidak mendapatkan penutup aurat yang wajib, lalu ia shalat dalam keadaan tanpa pakaian, atau ia hanya mampu menutup sebagian auratnya dan tidak mampu menutup sisanya kemudian ia shalat, maka tidak ada kewajiban mengulangi shalatnya. Hal ini sama, baik ia berasal dari kaum yang terbiasa tanpa pakaian ataupun bukan. Ulama Khurasan menukil satu pendapat terkait orang yang tidak terbiasa telanjang bahwa ia wajib mengulang (shalatnya) … namun pendapat ini lemah dan tidak dianggap. Syaikh Abu Hamid dalam kitab at-Ta‘liq berkata: “Aku tidak mengetahui adanya perselisihan di antara kaum Muslimin bahwa tidak wajib mengulang bagi orang yang shalat dalam keadaan telanjang karena ketidakmampuannya memperoleh penutup aurat”” (Al-Majmu’, 3/183).
Wallahu a’lam.





Leave a comment