Kita mengetahui adanya thawaf sunnah di Masjidil Haram. Namun adakah sa’i sunnah dari Shafa ke Marwah?
Jawabannya tidak ada sa’i sunnah. Ibadah sa’i hanya ada dalam rangkaian haji atau umroh, tidak berdiri sendiri. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا
“Shafa dan Marwah merupakan bagian dari syiar-syiar Allah. Maka siapa yang berhaji atau berumrah, tidak mengapa mereka sa’i antara keduanya” (QS. Al Baqarah: 158).
Para ulama ijma akan hal ini. Ath-Thahawi rahimahullah mengatakan:
وقد أجمع المسلمون أنَّ الطَّوافَ بينهما في غيرِ الحجِّ، وفي غير العُمْرة، ليس مما يَتقرَّبُ به العبادُ إلى الله عز وجل، ولا مما يتطوَّعون له به، وأنَّ الطَّوافَ بينهما كذلك لا معنى له، ولا قُربَة فيه إلا أن يكون في حجٍّ أو في عُمْرة
“Ulama kaum muslimin telah sepakat bahwa melakukan sa‘i antara keduanya (Shafa dan Marwah) di luar ibadah haji dan di luar ibadah ‘umrah bukanlah suatu bentuk ibadah yang dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan bukan pula suatu amalan sunnah yang dianjurkan. Ulama juga sepakat bahwa sa‘i antara keduanya dalam keadaan demikian tidak memiliki makna ibadah dan tidak ada nilai pendekatan diri di dalamnya, kecuali apabila dilakukan dalam rangka haji atau ‘umrah.” (Ahkamul Qur’an, 2/100).
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan:
إجماعُ المسلمين على أنَّ التطوُّعَ بالسَّعيِ لغير الحاجِّ والمعتَمِر؛ غيرُ مشروعٍ
“Ijma kaum Muslimin bahwa sa’i sunnah selain untuk haji dan umrah itu tidak disyariatkan” (Fathul Bari, 3/449).
Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:
لا يُستحَب التطوُّعُ بالسَّعي كسائِرِ الأنساك، ولا نعلم فيه خلافًا
“Tidak anjurkan sa’i sunnah sebagaimana rangkaian ibadah haji yang lainnya. Tidak kami ketahui adanya khilaf dalam masalah ini” (Asy-Syarhul Kabir, 3/467).
Wallahu a’lam.





Leave a comment