Dalam hadits dari Mush’ab bin Sa’ad radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
هلْ تُنْصَرُونَ وتُرْزَقُونَ إلَّا بضُعَفَائِكُمْ
“Bukankah kalian ditolong dan diberikan rezeki karena orang-orang lemah di antara kalian” (HR. Al-Bukhari no.2896).
Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
“Hadiفs ini mengandung pelajaran bahwa tidak sepantasnya orang-orang yang kuat dan orang-orang mampu meremehkan orang-orang yang lemah dan tidak berdaya. Baik dalam urusan jihad dan kekuatan pasukan, maupun dalam urusan rezeki dan ketidakmampuan mereka untuk mencari nafkah.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan bahwa kemenangan atas musuh dan kelapangan rezeki terkadang terjadi melalui sebab-sebab yang berkaitan dengan orang-orang lemah. Yaitu karena ketulusan hati mereka, doa-doa mereka, permintaan tolong mereka, dan permintaan rezeki mereka kepada Allah.
Karena sebab-sebab yang membuat tujuan-tujuan kita tercapai itu ada dua macam:
PERTAMA, sebab-sebab yang hissi, yang dapat disaksikan dengan pancaindra. Yaitu kekuatan berupa keberanian dalam ucapan dan perbuatan, serta adanya harta dan kemampuan untuk mencari penghasilan. Jenis sebab ini yang paling banyak menguasai hati mayoritas manusia, sehingga mereka menggantungkan terwujudnya kemenangan dan rezeki kepadanya.
Bahkan pada banyak orang Jahiliyah keadaannya sampai level mereka membunuh anak-anak mereka karena takut miskin, dan pada sebagian yang lain sampai level merasa jengkel terhadap keluarga-keluarga mereka yang tidak mampu bekerja dan lemah. Semua ini merupakan pandangan yang dangkal, lemahnya iman, kurangnya kepercayaan terhadap janji Allah dan kecukupan dari-Nya. Serta merupakan cara pandang yang tidak sesuai dengan hakikatnya.
KEDUA, sebab-sebab yang bersifat maknawi (non-materil). Yaitu kuatnya tawakal kepada Allah dalam meraih capaian-capaian agama dan dunia, sempurnanya rasa percaya kepada Allah, serta kuatnya orientasi hati kepada-Nya dan terus memohon kepada-Nya.
Perkara-perkara ini sangat besar adanya pada orang-orang yang lemah dan tidak berdaya. Yang karena keadaan darurat memaksa mereka untuk mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa kecukupan, rezeki, dan pertolongan mereka berasal dari Allah semata. Dan bahwa mereka berada dalam puncak ketidakberdayaan. Maka hati mereka pun menjadi tunduk dan merendah, serta tertuju sepenuhnya kepada Allah. Lalu Allah menurunkan kepada mereka pertolongan dan rezeki-Nya, berupa dicegahnya berbagai keburukan dan didapatkannya berbagai manfaat, yang tidak mampu digapai oleh orang-orang yang mampu. Bahkan Allah memudahkan semua itu bagi orang-orang yang mampu, melalui sebab orang-orang lemah itu, berupa rezeki yang sama sekali tidak pernah mereka perhitungkan. Karena sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi setiap orang rezeki yang telah ditentukan.
Allah menjadikan sebab rezeki orang-orang lemah dan tidak berdaya itu berada di tangan orang-orang yang mampu. Dan Allah pun menolong orang-orang yang mampu untuk membantu orang-orang yang lemah, terlebih lagi mereka yang kuat kepercayaannya kepada Allah dan tenang jiwanya terhadap pahala-Nya. Maka Allah membukakan bagi mereka sebab-sebab kemenangan dan rezeki yang tidak pernah terlintas dalam benak mereka, dan tidak pernah terbayang dalam khayalan mereka.
Betapa banyak manusia yang awalnya rezekinya sempit, lalu ketika tanggungannya bertambah banyak dan orang-orang yang bergantung kepadanya semakin banyak, Allah pun melapangkan rezekinya melalui berbagai arah dan sebab yang bersifat syar‘i, kauni, dan ilahi”
(Bahjah Qulubil Abrar, 151-152).
Fawaid Kangaswad | Umroh Bersama Kami: bit.ly/fawaid-umroh






Leave a comment