Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَن يُقْتَلُ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتٌۢ ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ وَلَٰكِن لَّا تَشْعُرُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS. Al-Baqarah: 154).

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (QS. Ali ‘Imran: 169).

Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhuma, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الشُّهَدَاءُ عَلَى بَارِقِ نَهَرٍ بِبَابِ الْجَنَّةِ فِي قُبَّةٍ خَضْرَاءَ يَخْرُجُ عَلَيْهِمْ رِزْقُهُمْ مِنْ الْجَنَّةِ بُكْرَةً وَعَشِيًّا

“Arwah para syuhada berada di tepi sungai Bariq, di pintu surga, di dalam sebuah kubah hijau. Rezeki mereka datang kepada mereka dari surga pada pagi dan petang” (HR. Ahmad no.2390, dishahihkan Ahmad Syakir dalam Umdatut Tafsir [1/439]).

Para ulama dalam al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ menjelaskan:

حياة الأنبياء والشهداء وسائر الأولياء حياة برزخية لا يعلم حقيقتها إلا الله ، وليست كالحياة التي كانت لهم في الدنيا

“Kehidupan para Nabi dan Syuhada serta para wali Allah yang telah wafat adalah kehidupan barzakhiyah (kehidupan di alam barzakh) yang tidak diketahui hakekatnya kecuali oleh Allah. Dan tidak sama dengan kehidupan mereka ketika di dunia” (Fatawa al-Lajnah, 1 / 173-174).

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda:

الأنبياءُ أحياءٌ في قُبورِهم يُصلُّونَ

“Para Nabi itu hidup di dalam kubur mereka dalam keadaan shalat” (HR. Al-Bazzar no.6888, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no.3425, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.621).

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menjelaskan hadits ini:

اعلم أن الحياة التي أثبتها هذا الحديث للأنبياء عليهم الصلاة والسلام ، إنما هي حياة برزخية ، ليست من حياة الدنيا في شيء ، ولذلك وجب الإيمان بها ، دون ضرب الأمثال لها ومحاولة تكييفها وتشبيهها بما هو المعروف عندنا في حياة الدنيا . هذا هو الموقف الذي يجب أن يتخذه المؤمن في هذا الصدد : الإيمان بما جاء في الحديث ، دون الزيادة عليه بالأقيسة والآراء ، كما يفعل أهل البدع الذين وصل الأمر ببعضهم إلى ادّعاء أن حياته صلى الله عليه وسلم في قبره حياة حقيقية ! قال : يأكل ويشرب ويجامع نساءه ! ! . و إنما هي حياة برزخية لا يعلم حقيقتها إلا الله سبحانه وتعالى

“Ketahuilah bahwa kehidupan yang ditetapkan oleh hadits ini bagi para Nabi ‘alaihimush-shalatu was-salam adalah kehidupan barzakhiyah. Sama sekali tidak sama dengan kehidupan dunia. Oleh karena itu, wajib untuk mengimaninya, tanpa membuat permisalan-permisalan baginya, dan tanpa berusaha menggambarkan bagaimana detail-detailnya, dan tanpa menyerupakannya dengan apa yang kita ketahui dari kehidupan dunia. Inilah sikap yang wajib diambil oleh seorang Mukmin dalam masalah ini, yaitu beriman terhadap apa yang datang dalam hadits, tanpa menambah-nambahkannya dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat, sebagaimana yang dilakukan oleh ahli bid‘ah. Sampai sebagian dari mereka sampai berani mengklaim bahwa kehidupan beliau Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di dalam kuburnya adalah kehidupan dunia yang nyata! Mereka berkata: “Beliau makan, minum, dan menggauli istri-istrinya di dalam kubur!”. Yang benar, itu adalah kehidupan barzakhiyah yang hakikatnya tidak diketahui kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala” (Silsilah ash-Shahihah no.621).

Oleh karena itu, walaupun mereka hidup di alam kubur, tetap tidak boleh berdoa dan meminta hajat kepada arwah para Nabi, arwah para Syuhada atau orang-orang shalih. Karena mereka tidak bisa mengabulkan hajat-hajat dan perbuatan demikian termasuk kesyirikan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan:

فأما قول القائل عند ميت من الأنبياء و الصالحين : اللهم إني أسألك بفلان ، أو بجاه فلان ، أو بحرمة فلان ؛ فهذا لم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا عن الصحابة ولا عن التابعين ، وقد نص غير واحد من العلماء أنه لا يجوز … فكيف يقول القائل للميت : أنا أستغيث بك ، وأستجير بك ، وأنا في حسبك ، أو : سل لي الله ، ونحو ذلك ؟ فتبين أن هذا ليس من الأسباب المشروعة ، ولو قدر أن له تأثيرا ؛ فكيف إذا لم يكن له تأثير صالح ، بل مفسدته راجحة على مصلحته ، كأمثاله من دعاء غير الله تعالى ؟!!

“Adapun ucapan seseorang di sisi mayit dari kalangan para nabi dan orang-orang shalih: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan wali fulan,” atau “dengan kedudukan wali fulan” atau “dengan kehormatan wali fulan,” maka hal ini tidak pernah dinukil dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, tidak pula dari para sahabat, dan tidak pula dari para tabi‘in. Bahkan, lebih dari satu orang ulama telah menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh. Maka bagaimana mungkin seseorang berkata kepada orang yang telah meninggal: “Aku meminta pertolongan kepadamu,” “aku berlindung kepadamu,” “aku berada dalam tanggunganmu,” atau “mintakanlah kepada Allah untukku,” dan ungkapan-ungkapan semisalnya? Dengan demikian menjadi jelas bahwa hal ini bukan termasuk sebab-sebab yang disyariatkan. Kalaupun ia dianggap memiliki pengaruh, maka apalagi jika ternyata ia tidak memiliki pengaruh sama sekali, bahkan kerusakannya lebih besar daripada maslahatnya. Sebagaimana halnya perbuatan-perbuatan sejenis berupa berdoa kepada selain Allah Ta‘ala!” (Talkhis al-Istighatsah, 1/452-454).

Perbuatan meminta hajat kepada arwah orang shalih atau menjadikan mereka sebagai perantara antara hamba dengan Allah, inilah hakekat kesyirikan yang dilakukan oleh orang musyirikin terdahulu. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Orang-orang mengambil pelindung-pelindung selain Allah tidaklah menyembahnya kecuali untuk mendekatkan diri kepada sesembahan mereka itu kepada Allah sedekat-dekatnya” (QS. Az Zumar: 3).

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:

فإن غالب الأمم كانت مقرة بالصانع ولكن تعبد معه غيره من الوسائط التي بظنونها تنفعهم أو تقربهم من الله زلفى

“Mayoritas umat manusia yang ada mengakui bahwa Allah adalah pencipta alam semesta, namun mereka menyembah sesembahan lain selain menyembah Allah juga sebagai perantara, yang menurut sangkaan mereka bisa memberikan manfaat untuk mereka, atau untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/482).

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.

Fawaid Kangaswad | Support Ma’had Online: trakteer.com/kangaswad/gift

Umroh Keluarga Bahagia Di Awal Ramadhan Bersama Ustadz Yulian Purnama

Program “Umroh Keluarga Bahagia” adalah program umroh yang dirancang untuk jamaah yang berumrah bersama keluarga beserta anak-anaknya. Kami siapkan acara-acara menarik selama perjalanan di tanah suci.Hotel sangat dekat dengan Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi, free kereta cepat Madinah-Makkah, bersama Batik Travel di bulan Februari 2026. Dibimbing oleh Ustadz Yulian Purnama –hafizhahullah

Paket 9 Hari, berangkat: 16 Februari 2026

📲 Tanya-tanya dulu juga boleh! 

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Fawaid Kangaswad adalah platform dakwah sunnah melalui website fawaidkangaswad.id dan beberapa kanal di media sosial seperti whatsapp, telegram, instagram dan twitter.

Fawaid Kangaswad juga mengelola Ma’had Fawaid Kangaswad, yaitu program belajar Islam berbasis kitab kuning karya para ulama Ahlussunnah, melalui media grup Whatsapp.

Fawaid Kangaswad juga menyebarkan buku-buku serta e-book bermanfaat secara gratis.

Dukung operasional kami melalui:

https://trakteer.id/kangaswad
(transfer bank, QRIS, OVO, Gopay, ShopeePay, Dana, LinkAja, dll)

Atau melalui:

Bank Mandiri 1370023156371 a/n Yulian Purnama

Semoga menjadi pahala jariyah.

Trending