Orang yang sudah menyalatkan jenazah bolehkah setelahnya ia ikut menyalatkan lagi kedua kalinya?
Dalam masalah ini tidak ada dalil yang tegas, sehingga para ulama berbeda pendapat. Acuan utama mereka adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu’anhu:
أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أبصَرَ رَجُلًا يُصَلِّي وَحدَه، فقالَ: ألَا رَجُلٌ يَتصدَّقُ على هذا فيُصَلِّيَ معه
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melihat seseorang yang shalat sendirian, lalu beliau bersabda: “Adakah seseorang yang ingin bersedekah kepada orang ini dengan shalat bersamanya?”” (HR. Al-Hakim no.853, Abu Daud no.574, dishahihkan Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrij Sunan Abu Daud).
Dalam hadits ini Nabi membolehkan orang yang sudah shalat fardhu untuk mengulang shalat fardhu demi menemani orang lain yang shalat sendirian agar dapat shalat berjama’ah.
Demikian juga hadits dari Yazid bin Al Aswad radhiallahu’anhu, ia berkata:
شَهِدْتُ معَ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ حجَّتَهُ فصلَّيتُ معَهُ صلاةَ الصُّبحِ في مسجدِ الخَيفِ ، قال : فلمَّا قضى صلاتَهُ وانحرفَ إذا هوَ برجُلَيْنِ في أخرى القومِ لم يصلِّيا معَهُ فقالَ : عليَّ بِهِما فجيءَ بِهِما ترعدُ فرائصُهُما فقالَ : ما منعَكُما أن تصلِّيا معَنا ؟ فقالا : يا رسولَ اللَّهِ إنَّا كنَّا قد صلَّينا في رحالِنا ، قالَ : فلا تفعلا إذا صلَّيتُما في رحالِكُما ، ثمَّ أتيتُما مسجدَ جماعةٍ فصلِّيا معَهُم فإنَّها لَكُما نافلةٌ
“Aku ikut dalam rombongan haji bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Aku pun shalat bersama beliau yaitu shalat shubuh di masjid Al Khaif. Ketika selesai shalat beliau beranjak, kemudian melihat ada dua orang lelaki dari kaum yang lain yang mereka tidak ikut shalat bersama Nabi ketika itu. Maka Nabi bersabda: bawalah dua orang itu kemari. Maka mereka berdua pun gemetaran karena takut. Nabi bersabda: apa yang menghalangi kalian untuk shalat bersama kami? Mereka berdua menjawab: wahai Rasulullah, kami sudah shalat di rumah kami. Nabi bersabda: jangan kalian lakukan itu! Jika kalian sudah shalat di rumah, kemudian mendatangi masjid jama’ah, maka shalatlah bersama mereka. Dan shalat tersebut adalah shalat sunnah bagi kalian” (HR. Tirmidzi no. 219, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).
Dalam hadits ini Nabi memerintahkan untuk mengulang shalat bagi orang yang sudah shalat ketika ia berada di masjid, dan shalat yang kedua statusnya shalat sunnah.
Apakah bolehnya pengulangan ini berlaku pada shalat jenazah?
Pendapat empat madzhab mengatakan ini tidak berlaku pada shalat jenazah, dan mereka memakruhkan perbuatan mengulangi shalat jenazah. Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan:
وَمَنْ صَلَّى مَرَّةً فَلَا يُسَنُّ لَهُ إعَادَةُ الصَّلَاةِ عَلَيْهَا. وَإِذَا صُلِّيَ عَلَى الْجِنَازَةِ مَرَّةً لَمْ تُوضَعْ لِأَحَدٍ يُصَلِّي عَلَيْهَا
“Barang siapa telah menyalatinya sekali, maka tidak disunnahkan baginya untuk mengulangi shalat atasnya. Dan apabila shalat jenazah telah dilakukan sekali, maka jenazah tersebut tidak diletakkan lagi agar seseorang menyalatinya” (Al-Mughni, 2/382).
Dalam kitab al-Fiqhu alal Madzahibil Arba’ah (Fikih 4 Madzhab) disebutkan:
يكره تكرار الصلاة على الجنازة، فلا يصلي عليها إلا مرة واحدة حيث كانت الصلاة الأولى جماعة، فإن صلى أولاً بدون جماعة أعيدت ندباً في جماعة ما لم تدفن، عند الحنفية؛ والمالكية، وخالف الشافعية، والحنابلة
“Dimakruhkan mengulang shalat jenazah, sehingga tidak dishalatkan atasnya kecuali satu kali saja, apabila shalat pertama dilakukan secara berjamaah. Namun apabila seseorang menyalatkan jenazah pertama kali tidak secara berjamaah, maka disunnahkan baginya untuk mengulanginya secara berjamaah selama jenazah tersebut belum dimakamkan, menurut mazhab Hanafiyah dan Malikiyah. Tidak sebagaimana pendapat Syafi‘iyah dan Hanabilah (yang tetap memakruhkan)” (al-Fiqhu alal Madzahibil Arba’ah, 1/479).
Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Durarus Saniyah disebutkan:
مَن صلَّى على جِنازة، فإنَّه لا يُعيدُ الصَّلاةَ عليها مرَّةً ثانيةً، وهذا باتِّفاق المذاهبِ الفِقهيةِ الأربعةِ: الحَنفيَّة ، والمالِكيَّة ، والشافعيَّة- وهو الأصحُّ عندهم- ، والحَنابِلَة ؛ وذلك لأنَّ الإعادةَ نافلةٌ، وصلاةُ الجِنازةِ لا يُتنفَّلُ بمثلِها
“Barang siapa telah menyalati jenazah, maka ia tidak mengulangi shalat atasnya untuk kedua kalinya. Hal ini merupakan kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafi‘iyah (dan ini pendapat yang paling shahih menurut mereka), serta Hanabilah. Hal itu karena pengulangan tersebut merupakah shalat sunnah, sedangkan shalat jenazah tidak bisa menghasilkan shalat sunnah yang semisalnya”.
Namun pendapat sebagian ulama membolehkan bahkan menganjurkan mengulang shalat jenazah jika ada kebutuhan. Mereka mengatakan bahwa pengulangan shalat juga berlaku dalam shalat jenazah.
Ini salah satu pendapat dalam madzhab Syafi’i, salah pendapat dalam madzhab Hambali dan juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
An Nawawi rahimahullah mengatakan:
إذا صلَّى على الجِنازَةِ جماعةٌ أو واحد ثم صلَّت عليها طائفةٌ أخرى، فأراد مَن صلَّى أولًا أن يُصلِّيَ ثانيًا مع الطائفة الثانيةِ، ففيه أربعة أوجه: (أصحُّها) باتِّفاق الأصحابِ: لا يُستحبُّ له الإعادةُ، بل المستحبُّ تركُها، والثاني: يُستحبُّ الإعادةُ
“Apabila shalat jenazah telah dilakukan oleh suatu jamaah atau oleh satu orang, kemudian ada rombongan lain yang menyalatkannya, lalu orang yang telah menyalatkan pada kali pertama ingin ikut shalat untuk kedua kalinya bersama rombongan kedua, maka dalam hal ini terdapat empat pendapat. Pendapat yang dianggap paling sahih menurut kesepakatan para ulama mazhab adalah: tidak dianjurkan baginya untuk mengulanginya, bahkan yang dianjurkan adalah meninggalkannya. Pendapat kedua: dianjurkan untuk mengulanginya” (Al-Majmu’, 5/220).
Wallahu a’lam, pendapat yang kuat adalah pendapat yang kedua. Yaitu bahwa shalat jenazah boleh diulang kedua kalinya.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan :
إذا صلى عليه، ثم وافق ناس يصلون عليه، فصلى معهم عند القبر؛ لا بأس، ولا حرج في ذلك، مثل ما يكرر الصلاة الأخرى، فلو صلى في مسجد، ثم جاء إلى مسجد لحاجة، أو لحضور الدرس، وهم يصلون؛ صلى معهم، كما أمر النبي بذلك -عليه الصلاة والسلام- فالإعادة لأمر شرعي لا بأس
“Jika seseorang telah menyalatkannya, lalu ia bertemu dengan orang-orang yang akan menyalatkannya, kemudian ia ikut shalat bersama mereka di sisi kubur, maka tidak mengapa dan tidak ada dosa. Ini seperti mengulang shalat pada shalat-shalat yang lain. Seandainya seseorang telah shalat di suatu masjid, lalu ia datang ke masjid lain karena suatu keperluan atau untuk menghadiri majelis ilmu, sementara mereka sedang shalat, maka ia shalat bersama mereka. Sebagaimana yang diperintahkan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Maka pengulangan shalat karena adanya sebab syar‘i adalah tidak mengapa” (Fatawa Jami’ al-Kabir, 1/150).
Wallahu a’lam.
Fawaid Kangaswad | Support Ma’had Online: trakteer.com/kangaswad






Leave a comment