Dari kakeknya ‘Amr bin Syu’aib, ia berkata:
أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم نَهى عَن تَناشُدِ الأشعارِ في المَسجِدِ، وعَنِ البَيعِ والشِّراءِ، وعَنِ التَّحَلُّقِ فيه يَومَ الجُمُعةِ قَبلَ الصَّلاةِ
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melarang melantunkan syair-syair di masjid, melarang jual-beli di masjid, dan melarang tahalluq (membuat majlis) di hari Jum’at sebelum shalat Jum’at” (HR. at-Tirmidzi no.322, Ibnu Khuzaimah no.1306, dihasankan oleh Al-Albani dalam Takhrij Shahih Ibnu Khuzaimah no.1304).
Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu’anhu, beliau berkata:
نَهَى أن يحلَّقَ في المسجدِ يومَ الجمعةِ قبلَ الصَّلاةِ
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melarang tahalluq (membuat majlis) di masjid pada hari Jum’at sebelum shalat Jum’at” (HR. Ibnu Majah no.936, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).
Dalam kitab ‘Aunul Ma’bud dijelaskan:
قَالَ الْخَطَّابِيُّ إِنَّمَا كَرِهَ الِاجْتِمَاعَ قَبْلَ الصَّلَاةِ لِلْعِلْمِ وَالْمُذَاكَرَةِ وَأَمَرَ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالصَّلَاةِ وَيُنْصِتَ لِلْخُطْبَةِ وَالذِّكْرِ فَإِذَا فَرَغَ مِنْهَا كَانَ الِاجْتِمَاعُ وَالتَّحَلُّقُ بَعْدَ ذَلِكَ وَقَالَ الطَّحَاوِيُّ النَّهْيُ عَنِ التَّحَلُّقِ فِي الْمَسْجِدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ إِذَا عَمَّ الْمَسْجِدَ وَغَلَبَهُ فَهُوَ مَكْرُوهٌ وَغَيْرُ ذَلِكَ لَا بَأْسَ بِهِ وَقَالَ الْعِرَاقِيُّ وَحَمَلَهُ أَصْحَابُنَا وَالْجُمْهُورُ عَلَى بَابِهِ لِأَنَّهُ رُبَّمَا قَطَعَ الصُّفُوفَ مَعَ كَوْنِهِمْ مَأْمُورِينَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِالتَّكْبِيرِ وَالتَّرَاصِّ فِي الصُّفُوفِ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ
“Al-Khathabi mengatakan: “Sesungguhnya yang dimakruhkan adalah berkumpul sebelum shalat untuk menuntut ilmu dan bermudzakarah, dan hendaknya memerintahkan mereka agar menyibukkan diri dengan shalat sunnah serta mendengarkan khutbah dan berdzikir. Apabila telah selesai shalat Jum’at, barulah diperbolehkan berkumpul dan membuat majlis setelah itu.”
Ath-Thahawi mengatakan: “Larangan bermajlis tersebut apabila sampai memenuhi masjid dan mendominasinya, maka hukumnya makruh. Adapun selain itu, maka tidak mengapa”.
Al-‘Iraqi mengatakan: “Para ulama dari mazhab kami dan jumhur ulama memahami hadits ini sesuai dengan zahirnya. Karena adanya majelis di hari Jum’at bisa memutus shaf shalat, sementara mereka pada hari Jumat diperintahkan untuk datang lebih awal dan merapatkan barisan, dari shaf pertama lalu berikutnya.’” (‘Aunul Ma’bud, 3/294).
Sebagian ulama membolehkan tanpa memakruhkan. Syaikh Ibnu Baz ketika ditanya masalah ini beliau menjawab:
الأمر في هذا واسع… إذا إنسان درَّس الناس وهم جالسون قبل الجمعة لا حرج، يُروى عن أبي هريرة أنه كان يقوم بهذا -رضي الله عنه- نعم
“Masalah ini longgar. Jika seseorang ingin memberi pengajaran kepada manusia ketika mereka sedang duduk-duduk (di masjid) sebelum shalat Jum’at, ini tidak mengapa. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa beliau pernah melakukan demikian”.
(Nurun ‘alad Darbi, no.366 pertanyaan ke-4).
Namun tentunya yang lebih utama adalah berhati-hati untuk tidak mengadakan pengajian di masjid sebelum shalat Jum’at. Dan menyibukkan diri untuk persiapan shalat Jum’at serta datang ke masjid lebih awal untuk berdzikir dan shalat sunnah di masjid. Kecuali jika sangat-sangat dibutuhkan untuk adanya pengajian di waktu tersebut.
Wallahu a’lam.
Fawaid Kangaswad | Umroh Bersama Kami: bit.ly/fawaid-umroh





Leave a comment