Berikut ini 5 langkah untuk melindungi anak dari pelecehan seksual:
1. MEMBERI EDUKASI
Hendaknya orang tua mengedukasi anaknya dengan ilmu-ilmu syar’i karena ilmu adalah sumber dari semua kebaikan.
Dalam hadits dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu’anhu, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفقِّهْهُ فِيْ الدِّينِ
“Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, akan dimudahkan untuk memahami ilmu agama” (HR. Bukhari no. 71, Muslim no. 1037).
Ilmu akan melindungi pemiliknya. Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu mengatakan:
العلمُ خيرٌ من المالِ؛ العلمُ يَحرسُك وأنت تَحرُسُ المالَ
“Ilmu lebih baik dari harta, karena ilmu akan menjaga pemiliknya, adapun harta harus engkau jaga” (Hilyatul Auliya, 1/80).
Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan:
فَأَصْلُ كُلِّ خَيْرٍ هُوَ العِلْمُ وَالعَدْلُ، وَأَصْلُ كُلِّ شَرٍّ هُوَ الجَهْلُ وَالظُّلْمُ
“Landasan dari semua kebaikan adalah ilmu dan keadilan. Landasan dari semua keburukan adalah kejahilan dan kezaliman” (Ighatsatul Lahafan, 2/136 – 137).
Yang hendaknya diedukasikan kepada anak agar tidak mengalami pelecehan seksual:
a. Tentang batasan aurat
Ajarkan batasan aurat laki-laki dan perempuan. Aurat laki-laki adalah dari pusar sampia lutut. Dan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Dan ada kaidah ulama: “apa yang dilarang untuk dilihat maka dilarang untuk disentuh”.
b. Tentang larangan khulwah (berdua-duaan)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ
“Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahramnya” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).
c. Tentang larangan sentuhan dengan lawan jenis
Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,
لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ
“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya(bukan mahramnya)” (HR. Ar Ruyani dalam Musnad-nya, 2/227,dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 1/447).
d. Tentang bahaya zina dan pacaran
Pacaran adalah bentuk mendekati zina. Sedangkan Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra’: 32).
Zina itu maksiat yang fatal, maka hukumannya sangat fatal.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
لا يحل دم امرئ مسلم ، يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله ، إلا بإحدى ثلاث : النفس بالنفس ، والثيب الزاني ، والمفارق لدينه التارك للجماعة
“Seorang muslim yang bersyahadat tidak halal dibunuh, kecuali tiga jenis orang: ‘Pembunuh, orang yang sudah menikah lalu berzina, dan orang yang keluar dari Islam‘” (HR. Bukhari no. 6378, Muslim no. 1676).
Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
البكْر بالبِكْر جَلْدُ مائة ونَفْيُ سَنَة والثّيّبُ بالثّيّبِ ، جَلْدُ مائة والرّجْم
“Perawan dengan perjaka (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan diasingkan setahun. Duda dengan janda (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan dirajam” (HR. Muslim no. 1690).
e. Tentang bahaya L68T
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu, ia berkata:
لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat mukhannats (laki-laki yang kebanci-bancian) dan para wanita yang kelaki-lakian”. Dan Nabi juga bersabda: “keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian!” (HR. Bukhari no. 5886).
Dalam riwayat lain Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan:
فأَخرَج النبي صلى الله عليه وسلم مخنَّثًا، وأَخرَج عمر مخنَّثًا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengeluarkan mukhannats (banci) dan Umar juga pernah mengeluarkan banci”.
f. Tentang pentingnya memilih teman
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
الرَّجُلُ علَى دينِ خليلِهِ فلينظُر أحدُكُم من يخالِلُ
“Seseorang itu sesuai dengan keadaan agama khalil (teman dekat) nya. Maka hendaknya ia memperhatikan siapa teman dekatnya” (HR. Abu Daud no. 4833, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami no.3545).
2. AKTIF MELAKUKAN PENGAWASAN KEPADA ANAK
a. Berusaha menjadi orang tua yang hadir
Usahakan jangan LDR, jangan sering pergi meninggalkan anak. Dari Fathimah bintu Qais radhiallahu’anha, ia berkata:
أتيت النبي صلى الله عليه وسلم، فقلت: إن أبا الجهم ومعاوية خطباني؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أما معاوية، فصعلوك لا مال له ، وأما أبوالجهم، فلا يضع العصا عن عاتقه
“Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya (sering safar)”” (HR. Muslim no.1480).
Dalam hadits ini, Nabi melarang Fathimah binti Qais menikah dengan Abul Jahm karena ia sering safar.
Demikian juga Allah Ta’ala berfirman:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ
“Dihalalkan bagi kalian untuk melakukan hubungan intim dengan istri kalian di malam bulan Ramadhan. Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi istri kalian” (QS. Al Baqarah: 187).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini:
وحاصله أن الرجل والمرأة كل منهما يخالط الآخر ويماسه ويضاجعه
“Kesimpulannya, suami dan istri hendaknya mereka berdua bercampur dengan lainnya, saling bersentuhan dan tidur seranjang” (Tafsir Ibnu Katsir).
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam walaupun sibuk, beliau tidak pernah meninggalkan anak-anaknya dan keluarganya dalam waktu yang lama.
b. Bangun kedekatan dengan anak (bonding)
Para Nabi membangun kedekatan dengan anak mereka.
Nabi Ibrahim mengajak Nabi Ismail untuk membangun Ka’bah. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”” (QS. Al Baqarah: 127).
Mertua Nabi Musa dekat dengan anak-anak perempuannya. Allah Ta’ala berfirman:
قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ
“Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya”” (QS. Al Qashash: 26).
Nabi Yusuf curhat kepada ayahnya (Nabi Ya’qub). Allah Ta’ala berfirman:
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
“Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”” (QS. Yusuf: 4).
Luqman al-Hakim dekat dengan anaknya. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”” (QS. Luqman: 13).
c. Selalu memantau perkembangan anak
Rasulullah sangat perhatian kepada anak-anaknya, bahkan perhatian kepada anak-anak orang lain. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا وَكَانَ لِى أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ قَالَ أَحْسِبُهُ قَالَ – كَانَ فَطِيمًا – قَالَ – فَكَانَ إِذَا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَآهُ قَالَ: أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ. قَالَ نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ
“Rasulullah adalah orang yang paling bagus akhlaknya. Aku (Anas) mempunyai seorang saudara laki-laki yang dikenal dengan kunyah Abu ‘Umair. Pada saat itu aku mengira dia masih dalam usia menyusui (kurang dari 2 tahun). Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, biasanya beliau melihatnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Abu ‘Umair ada apa dengan nughair?”Anas berkata, “(Nughair) adalah burung kecil yang dia (Abu ‘Umair) biasa bermain dengannya.” (HR. Bukhari no. 6129, 6203 dan Muslim no. 2150)
d. Mendidik anak itu seumur hidup
Nabi mendidik Fatimah dan Ali untuk shalat malam. Padahal mereka sudah berkeluarga. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ia mengatakan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ طَرَقَهُ وَفَاطِمَةَ بِنْتَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَام لَيْلَةً فَقَالَ أَلَا تُصَلِّيَانِ …الحديث
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi dirinya dan Fathimah, putri Nabi, pada suatu malam, seraya berkata: “Tidakkah kalian berdua mengerjakan shalat (malam) … “. (HR al-Bukhâri dan Muslim).
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mendidik keluarganya untuk menghidupkan malam di bulan Ramadhan. Dari Aisyah radhiyallahu’anha:
كاَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرَ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir, maka beliau mengencangkan ikatan kainnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya…” (HR. al-Bukhari dan Muslim.)
3. MERUTINKAN DZIKIR
Dzikir adalah benteng yang melindungi dari berbagai keburukan. Maka ajari anak untuk merutinkan dzikir-dzikir harian. Seperti dzikir pagi-sore, dzikir masuk dan keluar WC, dzikir masuk dan keluar rumah, dzikir setelah shalat, dzikir hendak dan selesai makan, dst.
Dari Al Harits Al Asy’ari radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللَّهَ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ كَذَلِكَ الْعَبْدُ لاَ يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِ اللَّهِ
“Aku memerintahkan kalian untuk banyak berdzikir. Semisal dengan seseorang yang sedang dikejar musuhnya dengan cepat. Hingga akhirnya ia mendatangi benteng yang kokoh, maka benteng tersebut pun menjaga dirinya dari musuh-musuhnya. Demikian juga seorang hamba, ia tidak ada yang bisa menjaga diri seorang hamba kecuali kecuali dzikir kepada Allah” (HR. At Tirmidzi no.2863, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).
Terutama, ajarkan anak untuk membaca doa keluar rumah. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: “بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ” قَالَ: « يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ. فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ
“Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setan-setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Ta’ala)?” (HR. Abu Dawud no. 5095, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud).
4. ORANG TUA BANYAK BERTAUBAT
Maksiat akan mengakibatkan musibah. Maka orang tua wajib bertaubat dari dosa-dosa agar dihindarkan dari musibah. Termasuk musibah berupa terjadinya pelecehan seksual pada anak.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30).
Terutama orang tua yang pernah berzina maka wajib segera bertaubat. Karena ada hadits:
لا يدخلُ الجنةَ ولدُ زنا
“Anak zina tidak masuk surga” (HR. Bukhari dalam Tarikh Kabir [2/257]. Dishahihkan oleh Ahmad Syakir).
Dalam hadits lain:
ولدُ الزِّنا شرُّ الثَّلاثةِ. وقالَ أبو هريرةَ لأن أمتِّعَ بسوطٍ فى سبيلِ اللَّهِ عزَّ وجلَّ أحبُّ إليَّ من أن أعتقَ ولدَ زنيةٍ.
“Anak hasil zina adalah yang paling buruk dari ketiganya. Dan Abu Hurairah berkata: ‘Sungguh, aku menyumbangkan sebuah cambuk di jalan Allah ‘Azza wa Jalla lebih aku sukai daripada memerdekakan anak hasil zina.’” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).
Maksudnya:
Siapa saja yang dilahirkan dari perbuatan zina ini, maka tidak diberikan taufiq untuk beramal shalih sehinga dapat memasukkannya ke dalam surga. Inilah yang kebanyakan terjadi. Pada umumnya, anak-anak akan mengikuti jalan orang tuanya. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Al-Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah dalam Al-Manaar.
Imam Asy-Syafi’i mengatakan:
إن الزنا دينٌ إن أقرضته كان الوفا من أهل بيتك فاعلمِ
“Zina adala hutang, siapa yang berhutang dengan zina maka akan dibayar hutang tersebut oleh keluarganya, camkan hal ini!”.
Maksudnya, siapa yang berzina dan tidak bertaubat, maka biasanya anaknya nanti akan menjadi pelaku zina atau korban zina. Maka wajib segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar, perbaiki diri, agar zina itu tidak menimpa anaknya.
5. BERDOA MINTA PERLINDUNGAN KEPADA ALLAH
Kita tidak bisa memantau anak kita 24 jam sehari. Kita tidak bisa menjaga anak kita dengan 100%. Hanya Allah yang bisa menjaganya, maka mintalah perlindungan kepada Allah.
Doa orang tua itu mustajab. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ثلاثُ دعَواتٍ مُستجاباتٌ لا شكَّ فيهنَّ: دعوةُ المظلومِ، ودعوةُ المُسافِرِ، ودعوةُ الوالِدِ لولَدِه
“Ada tiga orang yang tidak tertolak doanya tanpa keraguan: doanya orang yang terzalimi, doanya orang yang sedang safar dan doa orang tua untuk anaknya” (HR. Abu Daud no.1536, At Tirmidzi no. 1905, Ibnu Majah no.3862, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.596)
Istrinya Imran meminta perlindungan untuk anaknya, yaitu Maryam. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk” (QS. Ali Imran: 35 – 36).
Nabi Shallallahu’alahi Wasallam mendoakan Hasan dan Husain dengan doa:
أعيذُكُما بِكلماتِ اللَّهِ التَّامَّةِ ، مِن كلِّ شيطانٍ وَهامَّةٍ ومن كلِّ عينٍ لامَّةٍ
“Aku meminta perlindungan untuk kalian berdua, dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk)” (HR. Bukhari, no. 3371).
Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam mengatakan bahwa doa di atas juga diamalkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, beliau bersabda,
كان أبوكم يعوذ بهما إسماعيل وإسحاق
“Ayah kalian (Ibrahim) memohon perlindungan untuk Ismail dan Ishaq dengan kalimat doa tersebut” (HR. Abu Daud 4737).
Wallahu a’lam.
___
Yulian Purnama
Ringkasan kajian di tanggal 28 Dzulqa’dah 1447H
Masjid Al-Ikhlas Karangbendo, Yogyakarta
Fawaid Kangaswad | Dukung Media Dakwah Kami: trakteer.com/kangaswad





Leave a comment