Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda tentang hari Idul Adha dan hari Tasyriq,
ألا وإنَّ هذِهِ الأيَّامَ أيَّامُ أَكْلٍ وشربٍ وذِكْرِ اللَّهِ عزَّ وجلَّ
“Ketahuilah bahwa hari-hari ini adalah hari makan dan minum serta berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla” (HR. Abu Daud no. 2813, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Daud).
Dari Nubaisyah al-Hudzali radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أيَّامُ التَّشريقِ أيَّامُ أكْلٍ وشُربٍ
“Hari tasyriq adalah hari makan dan minum” (HR. Muslim no.1141).
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, beliau berkata:
لم يُرخَّصْ في أيَّامِ التَّشريقِ أن يُصَمْنَ، إلَّا لِمَن لم يجِدِ الهَدْيَ
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak memberikan keringanan untuk berpuasa di hari tasyriq. Kecuali bagi orang yang tidak memiliki hadyu (hewan sembelihan dalam ibadah haji)” (HR. al-Bukhari no.1998).
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan:
وأمَّا صِيامُ أيَّامِ التشريقِ، فلا خلافَ بين فقهاءِ الأمصارِ- فيما عَلِمْتُ- أنَّه لا يجوزُ لأحدٍ صومُها تطوُّعًا
“Adapun berpuasa di hari tasyriq, maka tidak ada khilaf di antara para fuqaha seluruh negeri yang aku ketahui, bahwasanya tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk puasa sunnah di hari tasyriq” (At-Tamhid, 12/127).
Wallahu a’lam.
Fawaid Kangaswad | Umroh Bersama Kami: bit.ly/fawaid-umroh





Leave a comment