Prinsip paling utama dalam masalah rezeki adalah meyakini dan menyadari bahwa Allah lah satu-satunya yang memberikan rezeki, bukan yang lain. Maka wajib hanya meminta dan menggantungkan hati hanya kepada Allah dalam mencari rezeki. Ini tauhid terkait masalah rezeki.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada ilah(sesembahan yang berhak) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling(dari tauhid)?” (QS. Fathir: 3).
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz Dzariyat: 58).
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” (QS. Hud: 6).
Tatkala diuji dengan seretnya rezeki, maka mintalah hanya kepada Allah. Allah Ta’ala ajarkan kita ucapan emas :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu lah ya Allah, kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (QS. Al Fatihah: 5).
Bahkan meminta rezeki dan pertolongan kepada selain Allah adalah bentuk kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman :
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّـهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan janganlah kamu berdoa kepada apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak(pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat(yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Yunus: 106).
Dan hanya kepada Allah lah kita gantungkan harapan dan hati kita dalam masalah rezeki. Adapun pekerjaan, perusahaan, gaji, wirausaha, tender, orderan, pelanggan, dan lainnya itu semua hanya sebab-sebab rezeki. Yang bisa hilang dan bisa berganti. Maka tidak boleh menggantungkan hati kepada sebab. Gantungkanlah hati hanya kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَلُوا إِن كُنتُمْ مُؤْمِنِين
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. Al Maidah: 23).
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْم إِن كُنتُم آمَنتُم بِاللهِ فَعَلَيهِ تَوَكَّلوُا إِن كُنتُمْ مُسلِمِين﴾
“Berkata Musa:‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri’” (QS. Yunus: 84).
Dalam ayat-ayat di atas, Allah Ta’ala perintahkan kita untuk tawakal kepada Allah semata satu-satunya. Sehingga tidak diperbolehkan tawakal kepada selain Allah, termasuk tawakal kepada sebab.
Apa itu tawakal?
Secara bahasa: tawakal artinya al i’timad (bergantung). Secara istilah, Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan:
صدق اعتماد القلب على اللّه تعالى في استجلاب المصالح ودفع المضار من أمور الدنيا والآخرة
“Bergantungnya hati kepada Allah dengan total, ketika ingin mendapatkan suatu maslahah atau ingin terhindar dari bahaya, baik dalam urusan dunia atau urusan akhirat” (Jami’ Al Ulum wal Hikam, 409).
Al Jurjani rahimahullah mengatakan:
التوكل هو الثقة بما عند اللّه، واليأس عما في أيدي الناس
“Tawakal adalah tsiqah (percaya) dengan apa yang ada di sisi Allah, dan putus asa dengan apa yang ada di sisi manusia” (At Ta’rifat, 74).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
الالتفات إلى الأسباب شرك في التوحيد . ومحو الأسباب أن تكون أسبابا نقص في العقل ، والإعراض عن الأسباب بالكلية قدح في الشرع
“Bergantung pada sebab adalah bentuk kesyirikan. Dan tidak mau mengakui sebab, ini adalah bentuk kurangnya akal. Dan tidak mau mengambil sebab secara total, ini adalah bentuk kurang dalam menjalankan syariat”(Majmu’ Al Fatawa, 8/16).
Ada 3 hukum dalam tawakal:
- Wajib, tawakal kepada Allah
- Syirik akbar, tawakal kepada makhluk dalam perkara yang tidak dimampui kecuali oleh Allah
- Syirik ashghar, tawakal kepada sebab
Manusia dalam masalah tawakal dan sebab ada 4 golongan:
1. Orang yang bergantung pada sebab dan usaha secara total, sama sekali tidak memiliki iman pada Rabb semesta alam. Ini tawakkal ala aqlaniyyin (pemuja akal), mu’tazilah, komunis, atheis dan materialistis. Ini tawakal yang keliru.
2. Orang yang meninggalkan sebab dan usaha secara total. Mereka menyerahkan urusan hanya kepada Allah, namun tidak ada usaha dan tidak mengambil sebab. Ini tawakkal ala kaum sufi. Ini juga tawakal yang keliru.
3. Orang yang berkeyakinan bahwa sebab dan usaha tidak ada pengaruhnya sama sekali. Walau terkadang mereka melakukan usaha. Ini tawakal ala Jabriyyah dan Asy’ariyah. Ini juga tawakal yang keliru.
4. Orang yang mengusahakan sebab dan usaha dengan anggota badan, namun hati bergantung penuh pada Allah ta’ala. Dan meyakini bahwa setiap takdir telah Allah jadikan sebab-sebabnya. Ini tawakal yang benar, yang merupakan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Boleh menyerahkan urusan kepada makhluk yang masih hidup dalam perkara yang dimampui oleh makhluk tersebut tanpa menggantungkan hati kepadanya. Allah Ta’ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah saling tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran” (QS. Al Maidah: 2).
Dan tawakal kepada Allah adalah sebab terbesar tercapainya hajat-hajat kita. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Siapa yang tawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya” (QS. Ath Thalaq: 3).
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan:
التوكل على الله من أعظم الأسباب التي تطلب بها الحوائج، فإن الله يكفي من توكل عليه
“Tawakkal kepada Allah adalah sebab terbesar tercapainya hajat-hajat. Karena Allah akan mencukupkan orang yang bertawakkal kepada Allah”(Jami al-Ulum wal-Hikam, hal.196).
Maka siapa yang sedang mencari rezeki, hendaknya pertebal tawakalnya kepada Allah Ta’ala. Niscaya Allah akan mudahkan rezekinya.
Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.





Leave a comment