Pertanyaan:
هل يصح أن أصلي خلف من يستغيث بغير الله ويتلفظ بمثل هذه الكلمات “أغثنا يا غوث، مدد يا جيلاني” وإذا لم أجد غيره، فهل لي أن أصلي في بيتي؟
Apakah sah shalat bermakmum kepada orang yang meminta pertolongan kepada selain Allah, dan mengucapkan kata-kata seperti “Tolonglah kami wahai wali ghauts!”, “Bantulah kami wahai Syaikh al-Jilani!” ? Dan jika saya tidak menemukan imam selain dia, apakah saya boleh shalat di rumah?
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab:
لا تجوز الصلاة خلف جميع المشركين، ومنهم من يستغيث بغير الله ويطلب منه المدد؛ لأن الاستغاثة بغير الله من الأموات والأصنام والجن وغير ذلك من الشرك بالله سبحانه، أما الاستغاثة بالمخلوق الحي الحاضر الذي يقدر على إغاثتك فلا بأس بها؛ لقول الله في قصة موسى: فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ [القصص:15].
Tidak boleh shalat bermakmum kepada semua jenis orang musyrik. Termasuk di antaranya orang yang meminta pertolongan kepada selain Allah dan memohon bantuan darinya. Karena meminta pertolongan kepada selain Allah, baik kepada orang mati, kepada berhala, kepada jin, dan selainnya, adalah bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Adapun meminta pertolongan kepada makhluk yang masih hidup, hadir, dan mampu menolongmu, maka itu tidak mengapa, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kisah Musa (yang artinya) : “Lalu orang yang dari golongan Nabi Musa meminta pertolongan kepada Nabi Musa untuk mengalahkan musuhnya” (QS. Al-Qashash: 15).
وإذا لم تجد إماما مسلما تصلي خلفه جاز لك أن تصلي في بيتك، وإن وجدت جماعة مسلمين يستطيعون الصلاة في المسجد قبل الإمام المشرك أو بعده فصل معهم
Jika anda tidak menemukan seorang imam yang masih Muslim untuk bermakmum kepadanya, maka boleh bagimu untuk shalat di rumah. Namun, jika kamu menemukan sekelompok Muslim yang mampu shalat di masjid sebelum imam musyrik tersebut atau setelahnya, maka shalatlah bersama mereka.
وإن استطاع المسلمون عزل الإمام المشرك وتعيين إمام مسلم يصلي بالناس وجب عليهم ذلك؛ لأن ذلك من باب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وإقامة شرع الله في أرضه إذا أمكن ذلك بدون فتنة؛ لقول الله تعالى: وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ الآية [التوبة:71] وقوله سبحانه: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ [التغابن:16] وقول النبي ﷺ: من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان رواه مسلم في صحيحه[1].
Jika kaum Muslimin mampu mengganti imam yang musyrik tersebut dan menunjuk imam yang masih Muslim untuk memimpin shalat, maka mereka wajib melakukannya. Karena hal itu termasuk amar ma’ruf nahi munkar dan upaya menegakkan syariat Allah di bumi-Nya, selama hal itu dapat dilakukan tanpa menimbulkan fitnah. Berdasarkan firman Allah Ta‘ala (yang artinya): “Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar…” (QS. At-Taubah: 71), dan firman-Nya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At-Taghabun: 16), serta sabda Nabi ﷺ: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).”
Sumber: Majalah Ad-Da‘wah, tanggal 13/10/1409 H. (Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Syaikh Ibnu Bāz: 4/314).
Link fatwa: https://binbaz.org.sa/fatwas/3565
***
Fawaid Kangaswad | https://lynk.id/kangaswad






Leave a comment