Dari Abu Sa’id al-Khudry radhiallahu’anhu, ia berkata:
قُلنا: يا رَسولَ اللهِ، وما الجَسرُ؟ قال: مَدحَضةٌ مَزِلَّةٌ، عليه خَطاطيفُ وكَلاليبُ، وحَسَكةٌ مُفَلطَحةٌ لَها شَوكةٌ عُقَيفاءُ، تَكونُ بنَجدٍ، يُقالُ لَها: السَّعدانُ، المُؤمِنُ عليها كالطَّرفِ وكالبَرقِ وكالرِّيحِ، وكأجاويدِ الخَيلِ والرِّكابِ؛ فناجٍ مُسَلَّمٌ، وناجٍ مَخدوشٌ، ومَكدوسٌ في نارِ جَهَنَّمَ
Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah jembatan di akhirat itu?” Beliau menjawab: “Ia adalah jembatan yang licin dan membuat kaki tergelincir. Di atasnya terdapat pengait-pengait, kait-kait besar, dan duri-duri pipih yang memiliki duri melengkung. Duri seperti itu terdapat di Najd dan disebut as-Sa‘dan. Orang mukmin ketika melewati jembatan tersebut sekejap mata, ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, ada yang dan seperti kuda-kuda serta kendaraan-kendaraan yang berlari cepat. Di antara mereka ada yang selamat tanpa terkena apa-apa, ada yang selamat tetapi tubuhnya tercabik dan terluka, dan ada pula yang dilemparkan ke dalam api Jahannam”
(HR. Bukhari no. 7439, Muslim no.183).
Tiga golongan manusia ketika melewati shirath (jembatan di akhirat) :
1. Mereka yang selamat melewati shirath tanpa terkena cabikan sama sekali.
2. Mereka yang selamat melewati shirath tapi terluka karena sempat terkena cabikan dan sempat terjatuh.
3. Mereka yang terkena cabikan dan terlempar ke neraka.
Ya Allah, selamatkan kami, jadikanlah kami manusia yang melewati shirath dengan selamat tanpa terkena cabikan sama sekali.





Leave a comment