Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan:
الصِّراطُ مَنصوبٌ على مَتنِ جَهنَّمَ. وهو الجِسرُ الذي بينَ الجَنةِ والنَّارِ. يَمُرُّ النَّاسُ عليه على قَدرِ أعمالِهم
“Shirath membentang di atas punggung neraka Jahanam. Shirath adalah jembatan yang berada di antara surga dan neraka. Manusia melewatinya sesuai dengan kadar amal perbuatan mereka” (Al-Aqidah Al-Wasithiyah, hal.99).
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan tentang shirath dalam sabdanya:
ويضرب الصراط بين ظهري جهنم ، فأكون أنا وأمتي أول من يجيزها ، ولا يتكلم يومئذ إلا الرسل ، ودعوى الرسل يومئذ : اللهم سلم سلم وفي جهنم كلاليب مثل شوك السعدان
“..Dan dibentangkanlah shirath di antara dua punggung neraka. Akulah orang yang pertama kali melewatinya. Tidak ada yang berkata-kata ketika itu kecuali para Rasul. Para Rasul pun ketika itu berdoa: “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah”. Pada shirath terdapat kait-kait seperti duri pohon Sa’dan..” (HR. Al Bukhari 7437).
Namun shirath ini hanya akan dilewati oleh orang-orang yang beriman. Adapun orang kafir, maka mereka semua digiring ke neraka Jahannam sebelum itu.
Allah Ta’ala berfirman:
وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا
“Dan ketika orang-orang kafir digiring ke neraka Jahannam dalam rombongan-rombongan” (QS. Az-Zumar: 71).
Allah Ta’ala berfirman:
وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاءُ اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ
“Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan semuanya” (QS. Fushilat: 19).
Dalam hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إذا كان يَومُ القيامةِ أذَّنَ مُؤَذِّنٌ ليَتبَعْ كُلُّ أمَّةٍ ما كانت تَعْبُدُ، فلا يَبقى أحَدٌ كان يَعْبُدُ غَيرَ الله سُبحانَه من الأصنامِ والأنصابِ إلَّا يَتَساقَطونَ في النَّارِ، حَتَّى إذا لَم يَبقَ إلَّا من كان يَعبُدُ اللهَ مِن بَرٍّ وفاجِرٍ وغُبَّرِ أهلِ الكِتابِ، فيُدعى اليَهودُ، فيُقالُ لهم: ما كُنتُم تَعْبُدونَ؟ قالوا: كُنَّا نَعبُدُ عُزَيرَ ابنَ اللهِ، فيُقالُ: كذَبتُم ما اتَّخَذَ اللهُ من صاحِبةٍ ولا وَلَدٍ، فماذا تَبْغونَ؟ قالوا: عَطِشْنا يا رَبَّنا، فاسْقِنا، فيُشارُ إليهم ألَا تَرِدونَ؟ فيُحشَرونَ إلى النَّارِ كأنَّها سَرابٌ يَحطِمُ بَعضُها بَعضًا، فيَتَساقَطونَ في النَّارِ، ثُمَّ يُدعى النَّصارى، فيُقالُ لهم: ما كُنتُم تَعْبُدونَ؟ قالوا: كُنَّا نَعبُدُ المَسيحَ ابنَ اللهِ، فيُقالُ لهم، كذَبتُم ما اتَّخَذَ اللهُ من صاحِبةٍ ولا وَلَدٍ، فيُقالُ لهم: ماذا تَبغُونَ؟ فيَقولونَ: عَطِشْنا يا رَبَّنا، فاسْقِنا، قال: فيُشارُ إليهم ألَا تَرِدونَ؟ فيُحشَرونَ إلى جَهنَّمَ كأنَّها سَرابٌ يَحطِمُ بَعضُها بَعضًا، فيَتَساقَطونَ في النَّارِ حَتَّى إذا لَم يَبقَ إلَّا من كان يَعبُدُ اللهَ تعالى من بَرٍّ وفاجِرٍ … ثُمَّ يُضرَبُ الجِسرُ على جَهَنَّمَ
“Apabila hari Kiamat telah tiba, terdengar seruan yang mengumumkan agar setiap umat mengikuti apa yang dahulu mereka sembah. Maka tidak akan tersisa seorang pun yang dahulu menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, berupa berhala-berhala dan patung-patung, kecuali mereka akan berjatuhan ke dalam neraka.
Hingga ketika tidak tersisa kecuali orang-orang yang dahulu menyembah Allah, baik mereka yang saleh maupun yang durhaka, serta sebagian orang-orang Ahlul Kitab yang telah lanjut usia, maka orang-orang Yahudi akan dipanggil.
Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Apa yang dahulu kalian sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami dahulu menyembah ‘Uzair, putra Allah.’ Maka dikatakan kepada mereka, ‘Kalian telah berdusta. Allah tidak pernah mengambil seorang istri maupun seorang anak. Lalu apa yang kalian inginkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami kehausan, wahai Rabb kami. Maka berilah kami minum.’
Kemudian mereka diberi isyarat, ‘Bukankah kalian ingin pergi menuju minuman?’ Lalu mereka digiring menuju neraka. Neraka itu tampak seperti fatamorgana yang satu bagiannya menghancurkan bagian lainnya. Kemudian mereka pun berjatuhan ke dalam neraka.
Setelah itu orang-orang Nasrani dipanggil. Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Apa yang dahulu kalian sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami dahulu menyembah al-Masih (Isa) putra Allah.’ Maka dikatakan kepada mereka, ‘Kalian telah berdusta. Allah tidak pernah mengambil seorang istri maupun seorang anak.’ Kemudian dikatakan kepada mereka, ‘Lalu apa yang kalian inginkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami kehausan, wahai Rabb kami. Maka berilah kami minum.’ Beliau bersabda: Lalu mereka diberi isyarat, ‘Bukankah kalian ingin pergi menuju minuman?’ Maka mereka digiring menuju Jahannam. Jahannam itu tampak seperti fatamorgana yang satu bagiannya menghancurkan bagian lainnya. Kemudian mereka pun berjatuhan ke dalam neraka. Hingga ketika tidak tersisa kecuali orang-orang yang menyembah Allah Ta‘ala semata, baik yang shalih maupun yang ahli maksiat … Kemudian jembatan (shirath) dibentangkan di atas Jahannam” (HR. Bukhari no.7439, Muslim no.183).
Hadits ini menunjukkan dengan tegas bahwa orang-orang kafir baik para penyembah berhala dan ahlul kitab, semuanya tidak akan melewati shirath. Namun mereka akan digiring ke neraka Jahannam sebelum dibentangkan shirath.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan:
لا يعبر الصراط إلا المؤمنون على قدر أعمالهم لحديث أبي سعيد رضي الله عنه
“Tidak akan melewati shirath kecuali orang-orang yang beriman, sesuai dengan amalan mereka. Berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu” (Majmu’ Fatawa war Rasail, 5/69).
Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.
Fawaid Kangaswad | Support Dakwah Kami: trakteer.com/kangaswad





Leave a Reply