Shalat ath-tathawwu’ al-muthlaq atau disebut juga shalat ghayru dzawatil asbab atau sering dikenal dengan istilah shalat sunnah mutlak adalah shalat sunnah yang tidak terkait oleh waktu tertentu atau sebab tertentu. Atau dengan kata lain, shalat sunnah mutlak adalah shalat yang dilakukan seseorang sekedar ingin mendapatkan pahala dan keutamaan shalat sunnah.
Shalat sunnah mutlak hukumnya mustahab untuk dikerjakan, kecuali di waktu-waktu terlarang untuk shalat. Dan shalat sunnah mutlak lebih dianjurkan dikerjakan di waktu malam.
Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiry mengatakan:
تسن صلاة التطوع المطلق كل وقت عدا أوقات النهي، وصلاة الليل أفضل من صلاة النهار، والثلث الأخير من الليل أفضل؛ لأنه وقت نزول الرب عز وجل إلى السماء الدنيا. فيصلي المسلم من الصلوات المطلقة ما شاء، ركعتين ركعتين، في غير أوقات النهي، وله أن يصلي نهاراً أربعاً بسلام واحد
“Disunnahkan shalat sunnah mutlak di setiap waktu kecuali waktu-waktu terlarang shalat. Dan malam hari lebih utama daripada siang hari. Lebih utama lagi di sepertiga akhir malam. Karena itu adalah waktu turunnya Rabb ‘azza wa jalla ke langit dunia.
Seorang Muslim boleh mengerjakan shalat sunnah mutlak sebanyak-banyaknya. Dengan cara dua rakaat – dua rakaat, kecuali di waktu terlarang. Boleh juga ia shalat sunnah mutlak di siang hari dengan empat rakaat satu salam” (Mausu’ah Al-Fiqhil Islamiy, 2/701).
Dalil-dalil shalat sunnah mutlak
1. Firman Allah Ta’ala:
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan” (QS. As-Sajdah: 16).
2. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
أفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ، وَأفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ صَلاةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam. Dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam” (HR. Muslim).
3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,
أنَّ رَجُلاً جَاءَ إلَى النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ يَخْطُبُ، فَقَالَ: كَيْفَ صَلاةُ اللَّيْلِ؟ فَقَالَ: «مَثْنَى مَثْنَى، فَإذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَأوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ، تُوتِرُ لَكَ مَا قَدْ صَلَّيْتَ»
Bahwasanya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika beliau sedang berkhutbah. Laki-laki itu bertanya, “Bagaimana tata cara salat malam?”. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Salat malam itu dua rakaat demi dua rakaat. Jika engkau khawatir waktu Subuh akan tiba, maka salatlah witir satu rakaat, yang menjadikan salat-salat yang telah engkau kerjakan sebelumnya berjumlah ganjil” (HR. Bukhari – Muslim).
4. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيني في الصَّلاةِ
“Dijadikan (oleh Allah) yang dapat menghibur hatiku adalah shalat” (HR. An-Nasa’i no.3939, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i).
Keutamaan shalat sunnah mutlak
1. Menjadi sebab masuk surga
Dari Rabi‘ah bin Ka‘b al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
كُنْتُ أبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -، فَأتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ. فَقَالَ لِي: «سَلْ». فَقُلْتُ: أسْألُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الجَنَّةِ. قال: «أوْ غَيْرَ ذَلِكَ؟». قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ. قال: «فَأعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ»
“Aku pernah bermalam bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Lalu aku membawakan air untuk wudu beliau dan keperluan beliau. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam kemudian berkata kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’. Aku menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar dapat menemanimu di surga.’ Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bertanya, ‘Apakah ada permintaan selain itu?’ Aku menjawab, ‘Hanya itulah yang aku inginkan.’ Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, bantulah aku untuk menolong dirimu sendiri dengan memperbanyak sujud (yaitu memperbanyak shalat)’” (HR. Muslim).
2. Termasuk amalan yang paling Allah cintai
Dari Ma‘dan bin Abi Thalhah al-Ya‘mari, ia berkata:
لَقِيتُ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ: أخْبِرْنِي بِعَمَلٍ أعْمَلُهُ يُدْخِلُنِي اللهُ بِهِ الجَنَّةَ، أوْ قال قُلْتُ: بِأحَبِّ الأعْمَالِ إِلَى اللهِ، فَسَكَتَ، ثُمَّ سَألْتُهُ فَسَكَتَ، ثُمَّ سَألْتُهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ: سَألْتُ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -، فَقَالَ: «عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ للهِ، فَإِنَّكَ لا تَسْجُدُ للهِ سَجْدَةً إِلا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً
“Aku bertemu dengan Tsauban, maula (mantan budak yang telah dimerdekakan oleh) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Aku berkata kepadanya, ‘Kabarkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat aku kerjakan sehingga Allah memasukkanku ke dalam surga karenanya.’ Atau ia berkata, ‘Aku bertanya, amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Tsauban pun terdiam. Kemudian aku bertanya lagi kepadanya, tetapi ia tetap terdiam. Lalu aku bertanya untuk ketiga kalinya. Ia pun berkata, ‘Aku pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah. Karena sesungguhnya, tidaklah engkau bersujud kepada Allah dengan satu kali sujud, melainkan Allah akan mengangkat derajatmu satu tingkat karenanya dan menghapus satu kesalahanmu karenanya”” (HR. Muslim).
Wallahu a’lam, semoga Allah Ta’ala memberi taufik.
Sumber:
Kitab Mausu’ah Al-Fiqhil Islamiy, karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiry, hal. 701-703
Fawaid Kangaswad | Support Dakwah: trakteer.com/kangaswad





Leave a Reply