Kitab kuning adalah istilah kitab-kitab berbahasa Arab gundul yang berisi pelajaran agama Islam yang ditulis oleh para ulama Islam.
Tentu saja ada kitab kuning untuk semua bidang pelajaran dalam agama Islam. Kitab kuning dipelajari oleh para ulama, ustadz dan penuntut ilmu. Kami pun mempelajari kitab-kitab kuning.
Namun, tidak semua kitab kuning berisi kebenaran dan akidah yang benar. Harus mewaspadai beberapa kitab kuning yang mengandung ajaran kesyirikan dan kultus individu yang dianggap wali. Jangan mudah membenarkan kesyirikan dan kultus individu walaupun memang ada dalam beberapa kitab kuning.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menjelaskan, “Orang-orang musyrikin di zaman ini, yang membuat-buat kesyirikan di tengah umat Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, mereka senantiasa berbuat kesyirikan baik dalam kondisi lapang maupun dalam kondisi genting. Mereka tidak memurnikan ibadah hanya untuk Allah, dalam kondisi genting sekalipun. Bahkan semakin genting keadaannya, mereka semakin parah kesyirikannya. Mereka memanggil-manggil nama Al Hasan Al Al Husain, nama Abdul Qadir Al Jilani, nama Ar Rifa’i dan nama-nama lainnya dalam kondisi genting. Ini perkara yang ma’ruf.
Bahkan mereka senang menceritakan kisah-kisah ajaib mereka ketika di tengah laut. Yaitu bahwa ketika terjadi kegentingan di tengah laut, mereka memanggil nama wali-wali mereka dan mereka beristighatsah (meminta pertolongan) kepada wali-wali mereka, bukan kepada Allah. Karena salah seorang yang dianggap wali oleh mereka pernah mengatakan: “kami bisa menolong kalian di tengah laut, jika kalian mendapati kegentingan di tengah laut, panggilah nama kami, kami akan menolong kalian”. Sebagaimana perkara seperti ini telah diketahui dari para masyaikh tarekat Sufiyah.
Coba anda baca kitab Thabaqat Asy Sya’rani, di dalamnya banyak kisah-kisah yang membuat bulu kuduk merinding (karena sangat parah kebatilannya, pent.). Dan mereka klaim itu sebagai karomah. Semisal bahwasanya para wali tersebut bisa menyelamatkan orang yang ada di laut, bisa memanjangkan tangan mereka untuk mengambil orang-orang yang mendapat musibah di laut, dan membawa mereka ke darat tanpa membahasahi lengan baju si wali. Dan cerita-cerita mistis serta khurafat lainnya” (Syarah Al Qawa’idul Arba’, dinukil dari Silsilah Syarhir Rasail, hal. 362).
Wallahu a’lam.
Fawaid Kangaswad | https://lynk.id/kangaswad





Leave a comment