Memperbanyak doa di hari Arafah
Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim no. 1348).
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خير الدعاء دعاء يوم عرفة
“Doa yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah” (HR. At Tirmidzi, 3585. Di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).
Takbir Muqayyad
Takbiran muqayyad di hari raya adalah takbir yang dikumandangkan setiap kali selesai shalat fardhu setelah salam.
DI hari Idul Adha, takbir ini dimulai sejak setelah salat subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah salat Asar tanggal 13 Dzulhijjah. Inilah yang dicontohkan oleh para sahabat:
Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhuma,
عنِ ابنِ عباسٍ أنَّه كان يُكبِّرُ عُقَيبَ صَلاةِ الغَداةِ يَومَ عَرَفةَ إلى آخِرِ أيَّامِ التَّشريقِ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ
“Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhuma bahwa beliau bertakbir setelah shalat subuh hari Arafah sampai akhir hari tasyriq di setiap akhir shalat” (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, dishahihkan oleh Syu’aib al-Arnauth [7/146]).
Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,
كان عَلِيٌّ يُكَبِّرُ بَعدَ صَلاةِ الفَجرِ غَداةَ عَرَفةَ، ثمَّ لا يَقطَعُ حتَّى يُصَلِّيَ الإمامُ من آخِرِ أيَّامِ التَّشريقِ، ثمَّ يُكَبِّرُ بعدَ العَصرِ
“Dahulu Ali bin Abi Thalib bertakbir setelah salat subuh pada pagi hari Arafah dan terus-menerus demikian sampai imam selesai shalat ashar di akhir hari tasyriq, beliau bertakbir setelah selesai shalat ashar. (HR. Al-Hakim no.1127, dishahihkan oleh Al-Hakim).
Adapun takbiran Idul Fitri dimulai pada malam Id. Pendapat ini di rajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, beliau berkata, “Dan takbir (Idulfitri) dimulai dari semenjak terlihatnya hilal, dan diakhiri dengan selesainya (shalat) ‘id, yaitu selesainya imam dari khutbah atas pendapat yang shahih.”
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)
Disunnnahkan mandi
Dalilnya riwayat dari Zadan rahimahullah, ia mengatakan:
أنَّ رجلًا سأَل عليًّا ، رضي اللهُ عنه ، عنِ الغُسلِ ، فقال : اغتَسِلْ كلَّ يومٍ إن شئتَ ، قال : لا بل الغسلُ , قال : اغتَسِلْ كلَّ يومِ جمُعةٍ ، ويومَ الفِطرِ ، ويومَ النحرِ ، ويومَ عرفةَ
“Seorang lelaki bertanya kepada Ali radhiallahu’anhu tentang mandi, ia menjawab: ‘Mandilah setiap hari jika engkau mau’. Lelaki tadi berkata: ‘bukan itu, tapi mandi yang benar-benar mandi’. Ali menjawab: ‘Mandi di hari Jum’at, Idul Fitri, Idul Adha dan hari Arafah’” (HR. Al Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil 1/177).
Demikian juga riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu’anhu
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
“Bahwa Abdullah bin Umar biasanya mandi di hari Idul Fitri sebelum berangkat menuju lapangan” (HR. Al Muwatha no.428, dishahihkan An Nawawi dalam Al Majmu’, 5/6).
Batasan minimal mandinya adalah meratakan air ke seluruh tubuh disertai kumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung). Yang sempurna adalah mandi dengan urutan sebagaimana urutan mandi janabah dalam hadits Aisyah.
Dianjurkan memakai pakaian yang terbaik
Dari Jabir radhiallahu’anhu, ia mengatakan:
كان للنبي صلى الله عليه وسلم جبة يلبسها للعيدين ويوم الجمعة
“Biasanya Nabi Shallallahu’alahi Wasallam menggunakan jubah di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dan di hari Jum’at” (HR. Ibnu Khuzaimah no.1765, didhaifkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Khuzaimah).
Diriwayatkan dari Nafi’ rahimahullah:
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَلْبَسُ فِي الْعِيدَيْنِ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ
“Ibnu Umar biasa mengenakan bajunya yang terbaik pada Idul Fitri dan Idul Adha” (HR. Al Baihaqi 6143, dishahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/510).
Memakai wewangian (bagi laki-laki)
Dari Nafi rahimahullah, beliau berkata tentang Ibnu Umar radhiallahu’anhuma:
كان يغتسل ويتطيب يوم الفطر
“Ibnu Umar biasanya mandi dan memakai minyak wangi di hari Idul Fitri” (HR. Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf no. 5752).
Adapun bagi wanita, tidak boleh memakai wewangian
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Perempuan mana saja yang mengenakan wewangian lalu melewati sekumpulan laki-laki, sehingga mereka mencium wangi harumnya maka ia adalah seorang pezina” (HR. Abu Daud no.4173, Tirmidzi no. 2786. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.323).
Dianjurkan makan sebelum shalat Idul Fitri, dan dianjurkan tidak makan sebelum shalat Idul Adha
Dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:
كان النبي صلى الله عليه وسلم لا يغدو يوم الفطر حتى يأكل تمرات ويأكلهن وتراً
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam biasanya tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga makan kurma terlebih dahulu, dan beliau makan kurma dengan jumlah ganjil” (HR. Bukhari).
Dari Buraidah Al Aslami radhiallahu’anhu ia berkata:
ان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم لا يَخْرُجُ يومَ الفِطْرِ حتى يَطْعَمَ ، ولا يَطْعَمُ يومَ الأضحى ، حتى يُصَلِّيَ
“Nabi Shallalahu’alaihi Wasallam tidak keluar di hari Idul Fitri sebelum makan terlebih dahulu. Dan tidak makan di hari Idul Adha, sampai shalat” (HR. Tirmidzi no. 542 dishahihkan Al Albani dalam Shahih Tirmidzi).
Dalam riwayat Al Bazzar:
لا يَطْعَمُ يوم الأضحى حتى يرجعَ
“Beliau tidak makan di hari Idul Adha, sampai kembali dari shalat”.
Ini anjuran bagi yang tidak berkurban. Adapun bagi yang berkurban, terdapat hadits dalam riwayat Ahmad:
ويوم النحْرِ لا يأكلُ حتى يرجعَ فيأكلَ من نسيكَتهِ
“Dan di hari Idul Adha, beliau tidak makan sampai kembali dari shalat, kemudian makan dari sembelihannya” (HR. Ahmad no. 22983, dihasankan An Nawawi dalam Al Majmu’).
Al Buhuti dalam Kasyful Qana‘ mengatakan:
وكان لا يأكل يوم النحر حتى يرجع، فيأكل من أضحيته، وإذا لم يكن له ذبح لم يبال أن يأكل
“Nabi biasanya tidak makan di hari Idul Adha sampai kembali dari shalat dan makan dari sembelihannya. Jika seseorang tidak punya kurban maka tidak mengapa ia makan”.
Dilarang puasa di hari Id dan hari tasyriq
Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, ia berkata:
نهى النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن صومِ يومِ الفِطرِ والنَّحرِ
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam melarang puasa di hari Idul Fitri dan hari Idul Adha” (HR. Al Bukhari no.1991, Muslim no.827).
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda tentang hari Idul Adha dan hari Tasyriq,
ألا وإنَّ هذِهِ الأيَّامَ أيَّامُ أَكْلٍ وشربٍ وذِكْرِ اللَّهِ عزَّ وجلَّ
“Ketahuilah bahwa hari-hari ini adalah hari makan dan minum serta berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla” (HR. Abu Daud no. 2813, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Daud).
Ulama ijma akan hal ini.
Mengambil jalan yang berbeda ketika pergi shalat Id
Dalilnya hadits Jabir:
كان النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا كان يوم عيدٍ خالَفَ الطريقَ
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam biasanya ketika hari Id mengambil jalan yang berbeda antara pulang dan pergi” (HR. Bukhari no.986).
Berjalan kaki ke lapangan
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله ُ عليه وسلم يَخْرُجُ إلي الْعيدِ مَا شِياً وَيَرْجِعُ مَاشِياً
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam keluar menuju shalat Id dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki” (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani).
Sa’id ibnu Musayyab mengatakan:
سنة الفطر ثلاث : المشي إلى المصلى ، والأكل قبل الخروج ، والاغتسال
“Sunnah di hari Idul FItri ada tiga: berjalan ke lapangan, makan sebelum keluar, dan mandi” (Ahkamul Idain karya Al Firyabi, 17).
Menyegerakan pelaksanaan shalat Idul Adha
Dengan kata lain jika dimulai lebih pagi itu lebih baik. Diriwayatkan secara mursal bahwa:
كتَب إلى عمرِو بنِ حزْمٍ وهو بنَجْرانَ عجِّلِ الأضحى وأخِّرِ الفطرَ وذكِّرِ الناسَ
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam mengirim surat kepada Amr bin Hazm ketika ia di Najran agar ia menyegerakan shalat Idul Adha dan mengakhirkan shalat Idul Fitri dan mengingatkan manusia” (HR. Al Baihaqi 3/282).
Pada Idul Fitri tujuannya untuk melonggarkan waktu pembayaran zakat fitri, sedangkan pada Idul Adha untuk menyegerakan penyembelihan sehingga waktunya lebih luas (Mulakhash Fiqhi, 1/270)
Bertakbir dengan suara keras ketika berjalan menuju lapangan hingga shalat dimulai
Ini diambil dari ayat:
وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Agar kalian menyempurnakan hitungannya, dan kalian bertakbir kepada Allah atas hidayah yang Allah berikan. Dan agar kalian bersyukur” (QS. Al Baqarah: 185).
Abu Abdirrahman As Sulami mengatakan:
كانوا في الفطر أشد منهم في الأضحى قال وكيع يعني التكبير
“Dahulu para salaf lebih bersemangat di hari Idul Fitri daripada ketika Idul Adha. Waki mengatakan: maksudnya dalam hal bertakbir” (Dishahihkan oleh Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 3/122).
Lafadz takbir yang diriwayatkan dari salaf ada beberapa macam:
* Berjumlah genap di awal dan akhir
الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
* Berjumlah ganjil di awal dan akhir
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
* Berjumlah ganjil di awal, genap di akhir
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
* Berjumlah genap di awal, ganjil di akhir
الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
(Mausu’ah Fiqhil Islami karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiri, 2/664).
Para wanita haid dan yang ada halangan shalat tetap menghadiri shalat id, walaupun tidak ikut shalat
Sebagaimana hadits dari Ummu ‘Athiyyah radhiallahu’anha :
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نخرج ذوات الخدور يوم العيد قيل فالحيض قال ليشهدن الخير ودعوة المسلمين قال فقالت امرأة يا رسول الله إن لم يكن لإحداهن ثوب كيف تصنع قال تلبسها صاحبتها طائفة من ثوبها
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan wanita yang dipingit (juga wanita yang haid) pada hari Ied, untuk menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimin. Kemudian seorang wanita berkata: ‘Wahai Rasulullah jika diantara kami ada yang tidak memiliki pakaian, lalu bagaimana?’. Rasulullah bersabda: ‘Hendaknya temannya memakaikan sebagian pakaiannya‘” (HR. Abu Daud no.1136. Dishahihkan Al Albani di Shahih Abi Daud).
Hukum Shalat Id
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat Id, menjadi 3 pendapat:
Pertama
Shalat Id hukumnya fardhu ‘ain. Ini adalah pendapat madzhab Hanafi, juga salah satu pendapat Imam Ahmad. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Asy Syaukani, Ash Shan’ani, Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin. Mereka berdalil dengan ayat:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Shalatlah kepada Rabb-mu dan menyembelihlah” (QS. Al Kautsar: 2).
Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan untuk shalat Idul Adha dan menyembelih qurban dengan fi’il amr (kata perintah). Sedangkan hukum asal perintah adalah wajib.
Demikian juga hadits dari Ummu ‘Athiyyah radhiallahu’anha :
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نخرج ذوات الخدور يوم العيد قيل فالحيض قال ليشهدن الخير ودعوة المسلمين قال فقالت امرأة يا رسول الله إن لم يكن لإحداهن ثوب كيف تصنع قال تلبسها صاحبتها طائفة من ثوبها
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan wanita yang dipingit (juga wanita yang haid) pada hari Ied, untuk menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimin. Kemudian seorang wanita berkata: ‘Wahai Rasulullah jika diantara kami ada yang tidak memiliki pakaian, lalu bagaimana?’. Rasulullah bersabda: ‘Hendaknya temannya memakaikan sebagian pakaiannya‘” (HR. Abu Daud, no.1136. Dishahihkan Al Albani di Shahih Abi Daud).
Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan para wanita yang sedang haid dan wanita yang dipingit untuk hadir di lapangan walau mereka tidak ikut shalat Id. Maka bagaimana lagi dengan orang yang tidak sedang haid dan bukan wanita yang dipingit?!
Kedua
Shalat Id hukumnya fardhu kifayah. Ini adalah pendapat madzhab Hambali. Dan juga pendapat yang dikuatkan oleh Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta’. Mereka berdalil dengan dalil-dalil pada pendapat pertama, namun yang menunjukkan bahwa kewajiban di sini sifatnya kifayah diantaranya adalah hadits Dhimam bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, tentang seorang badui yang bertanya kepada Nabi:
فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ الإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي اليَوْمِ وَاللَّيْلَةِ»، فَقَالَ: «هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟» قَالَ: «لَا، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ»
“Dia bertanya kepada Nabi tentang Islam. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab: shalat 5 waktu sehari-semalam. Orang tadi bertanya lagi: apakah ada lagi shalat yang wajib bagiku? Nabi menjawab: tidak ada, kecuali engkau ingin shalat sunnah” (HR. Bukhari no. 47, Muslim no. 11).
Hadits ini menunjukkan tidak ada shalat yang wajib selain shalat 5 waktu, yaitu kewajiban yang sifatnya fardhu ‘ain. Dan mereka membawa perintah untuk shalat yang selain shalat 5 waktu kepada fardhu kifayah.
Ketiga
Shalat Id hukumnya sunnah muakkadah. Ini adalah pendapat jumhur ulama, yaitu madzhab Syafi’i, Maliki, salah satu pendapat dalam madzhab Hanafi, salah satu pendapat imam Ahmad dan juga ini merupakan pendapat Daud Azh Zhahiri. Diantara dalilnya adalah hadits hadits Dhimam bin Tsa’labah di atas. Juga hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma ia berkata,
لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ »
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah bersabda padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum Ahlul Kitab. Maka hendaknya yang engkau dakwahkan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka mengerjakan itu (shalat), maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka untuk membayar zakat dari harta mereka, diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang faqir. Jika mereka menyetujui hal itu (zakat), maka ambillah zakat harta mereka, namun jauhilah dari harta berharga yang mereka miliki” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19).
Dalam hadits ini disebutkan bahwa Allah hanya mewajibkan shalat 5 waktu.
Wallahu a’lam, yang rajih shalat Id hukumnya fardhu ‘ain. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sampai memerintahkan wanita yang dipingit yang tidak memiliki jilbab untuk keluar menghadirinya. Maka tidak mungkin lelaki atau wanita yang tidak memiliki udzur boleh tinggal di rumah dan tidak menghadiri shalat.
Adapun pendalilan dengan hadits Dhimam bin Tsa’labah tidak tegas menunjukkan tidak wajibnya shalat Id, karena adanya banyak kemungkinan. Bisa jadi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda demikian karena tahu orang badui tersebut belum terpenuhi syarat-syarat wajib dari amalan wajib yang lain, bisa jadi itu disabdakan oleh beliau ketika belum turunnya kewajiban-kewajiban lain yang tidak disebutkan dalam hadits, dan kemungkinan lainnya (Majmu Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al Utsaimin, 14/337).
Sedangkan kaidah ushuliyyah mengatakan, “jika dalam suatu pendalilan terdapat banyak kemungkinan, maka batal pendalilannya”.
Namun kewajiban shalat Id gugur ketika ada udzur seperti dalam kondisi sakit, safar, adanya wabah. Sebagaimana kaidah fikih: “kewajiban bergantung pada adanya kemampuan”.
Takbir tambahan dalam shalat Id
Ketika shalat Id bertakbir sebanyak 7 kali pada rakaat pertama, atau 5 kali pada rakaat kedua. Takbir ini dinamakan takbir zawaid (tambahan). Hukumnya sunnah, dan ini adalah pendapat jumhur ulama dari madzhab Hambali, Syafi’i dan Maliki. Dalilnya hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata:
أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان يكبر في الفطر والأضحى: في الأولى سبع تكبيرات، وفي الثانية خمساً، سوى تكبيرتي الركوع
“Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam biasanya bertakbir pada shalat Idul Fitri dan Idul Adha 7 kali di rakaat pertama dan 5 kali di rakaat kedua, tidak termasuk takbir untuk rukuk” (HR. Abu Daud 1150, Ibnu Majah 1280, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil no.639).
Ulama sepakat bahwa 5 takbir di rakaat kedua tidak termasuk takbir intiqal (ketika bangun dari sujud). Sehingga total takbir di awal rakaat kedua adalah 6 takbir.
Namun ulama khilaf apakah 7 takbir di rakaat pertama itu termasuk takbiratul ihram ataukah tidak ternasuk. Madzhab Hambali mengatakan 7 takbir sudah termasuk takbiratul ihram. Yaitu 1 takbiratul ihram, dan 6 takbir tambahan. Dalam matan Al Akhshar disebutkan:
يكبر في الأولى بعد الإستفتاح و قبل التعوذ و القراءة ستا
“Bertakbir di rakaat pertama setelah membaca istiftah dan sebelum membaca ta’awwudz dan Al Fatihah, sebanyak 6 takbir”.
Ini juga merupakan pendapat madzhab Maliki.
Sedangkan Syafi’iyyah berpendapat bahwa 7 takbir di rakaat pertama itu tidak termasuk takbiratul ihram. Sehingga 1 takbiratul ihram, dan 7 takbir tambahan, total ada 8 takbir. Ini juga yang dirajihkan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan, beliau berkata:
كما مر في الحديث سبع بعد تكبرة الإحرام و خمسة بعد تكبرات الإنتقال في الركعة الثانية
“Sebagaimana disebutkan dalam hadits, 7 takbir setelah takbiratul ihram dan 5 takbir setelah takbir intiqal di rakaat kedua”.
Ini pendapat yang lebih kami condongi, wallahu a’lam.
Dianjurkan shalat di rumah bagi yang ada udzur
Orang yang tidak bisa menghadiri shalat Id berjama’ah di lapangan karena suatu udzur atau orang yang terlewat darinya, disunnahkan untuk melaksanakannya di rumah. Ini adalah pendapat jumhur ulama, yaitu pendapat madzhab Syafi’i, Hambali dan Maliki.
Dalilnya sebagaimana disebutkan Imam Al Bukhari dalam Shahih Al Bukhari:
باب: إذا فاتته صلاة العيد يصلي ركعتين، وكذلك النساء ومن كان في البيوت والقرى لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “هذا عيدنا أهل الإسلام”، وأمر أنس بن مالك مولاه ابن أبي عتبة بالزاوية فجمع أهله وبنيه وصلى كصلاة أهل المصر وتكبيرهم. وقال عكرمة: أهل السواد يجتمعون في العيد يصلون ركعتين كما يصنع الإمام. وقال عطاء: إذا فاته العيد صلى ركعتين
“Bab: jika seseorang terlewat shalat Id, maka ia shalat dua raka’at. Demikian juga para wanita dan orang yang ada di rumah serta di pedalaman. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: “ini adalah Id orang Islam”. Dan Anas bin Malik memerintahkan pembantunya (shalat dua raka’at), yaitu Ibnu Abi Utbah untuk menjadi imam, ketika berada di Zawiyah. Dan beliau mengumpulkan istrinya dan anak-anaknya, dan beliau shalat seperti shalat Id yang dikerjakan penduduk kota (yang tidak sedang safar) dan dengan cara takbir yang sama.
Ikrimah berkata: ahlus sawad (orang yang tinggal di pedalaman gurun) di hari Id mereka mengumpulkan keluarganya lalu shalat 2 rakaat sebagaimana shalat yang diadakan oleh imam (ulil amri)
Atha’ berkata: jika seseorang tertinggal shalat Id, maka ia shalat 2 rakaat” [selesai nukilan dari Shahih Bukhari].
Dalam atsar ini disebutkan Anas bin Malik radhiallahu’anhu mengumpulkan keluarganya untuk mengerjakan shalat Id berjama’ah di rumah, ketika beliau sedang safar di tempat bernama Zawiyah. Ini menunjukkan disyariatkannya shalat Id di rumah secara berjama’ah ketika tidak bisa menghadiri shalat Id di lapangan. Jika dikerjakan secara berjama’ah, maka posisi imam dan makmum sama seperti pada shalat berjama’ah yang lainnya.
Namun shalat Id di rumah itu boleh dikerjakan sendiri-sendiri, tidak harus berjama’ah. Ibnu Qudamah rahimahullah setelah membawakan atsar dari Anas bin Malik di atas, beliau menjelaskan:
وفكان على صفتها، كسائر الصلوات، وهو مخير، إن شاء صلاها وحده، وإن شاء في جماعة.
“(shalat Id di rumah) caranya sebagaimana shalat-shalat yang lainnya. Dan seseorang boleh memilih. Jika ia ingin, boleh shalat sendirian. Jika ia ingin, boleh shalat secara berjama’ah” (Al Mughni, 2/289).
Al Muzanni Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan:
ويصلي العيدين المنفرد في بيته ، والمسافر ، والعبد ، والمرأة
“Disyariatkan shalat Id sendirian di rumah bagi musafir, budak dan wanita” (Mukhtashar Al Umm, 8/125).
Pelaksanaannya sama seperti shalat Id berjamaah, namun tidak perlu ada khutbah.
Sebagian ulama tetap menganjurkan untuk ada khutbah, ketika dilakukan secara berjama’ah di rumah. Dalilnya, mereka mengqiyaskan dengan shalat Id dilapangan. Dalam kitab Mughnil Muhtaj (1/589) disebutkan:
ويسن بعدهما خطبتان للجماعة تأسيا به – صلى الله عليه وسلم – وبخلفائه الراشدين، ولا فرق في الجماعة بين المسافرين وغيرهم
“Disunnahkan setelah shalat Id ada khutbah bagi jama’ah dalam rangka mencontoh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para Khulafa Ar Rasyidin. Tidak ada perbedaan antara jama’ah musafir maupun selain mereka”.
Namun, wallahu a’lam, yang lebih tepat dalam hal ini adalah tidak ada khutbah ketika shalat Id dilakukan di rumah. Sebagaimana praktek para salaf yang telah disebutkan riwayat-riwayatnya, dari Anas bin Malik, Ma’mar bin Abdillah, Ikrimah, Atha’, Qatadah, Ibrahim An Nakha’i dan lainnya, tidak menyebutkan bahwa mereka melakukan khutbah ketika tertinggal shalat Id atau ketika melakukan shalat Id di rumah.
Memberikan ucapan selamat hari raya
Dari Jubair bin Nufair ia mengatakan:
كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض ، تُقُبِّل منا ومنك
“Dahulu para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika saling bertemu di hari id, mereka mengucapkan: taqabbalallahu minna wa minka” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubrah, dihasankan Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, 2/446).
Bergembira di hari raya
Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:
قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال ما هذان اليومان قالوا كنا نلعب فيهما في الجاهلية فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر
“Di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam baru hijrah ke Madinah, warga Madinah memiliki dua hari raya yang biasanya di hari itu mereka bersenang-senang. Rasulullah bertanya: ‘Perayaan apakah yang dirayakan dalam dua hari ini?’. Warga madinah menjawab: ‘Pada dua hari raya ini, dahulu di masa Jahiliyyah kami biasa merayakannya dengan bersenang-senang’. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri” (HR. Abu Daud, 1134, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).
Perkataan Nabi “Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian” menunjukkan hari raya pengganti memiliki sifat yang sama seperti hari raya yang digantikan, yaitu hari untuk bersenang-senang dan bergembira. Maka dianjurkan bagi kita untuk bergembira dan berbahagia di hari raya idul fitri maupun idul adha.
Oleh karena itu Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan:
إِظْهَار السُّرُورِ فِي الْأَعْيَادِ مِنْ شِعَارِ الدِّينِ
“Menampakkan kegembiraan di hari Id adalah bagian dari syi’ar agama” (Fathul Bari, 2/443).
Boleh bermain duff di hari raya
Bahkan dibolehkan anak-anak kecil memainkan rebana di hari raya. Sedangkan di hari-hari lain, tidak diperbolehkan bermain rebana karena termasuk alat musik. Dalam hadits dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:
أن أبا بكر رضي الله عنهما دخل عليها وعندها جاريتان في أيام منى تدففان وتضربان والنبي صلى الله عليه وسلم متغش بثوبه فانتهرهما أبو بكر فكشف النبي صلى الله عليه وسلم عن وجهه فقال دعهما يا أبا بكر فإنها أيام عيد وتلك الأيام أيام منى
“Abu Bakar radhiallaahu’anhuma masuk menemuinya ’Aisyah. Di sampingnya terdapat dua orang anak perempuan di hari Mina yang menabuh duff. Nabi shallallaahu’alaihi wasallam ketika itu menutup wajahnya dengan bajunya. Ketika melihat hal tersebut, Abu Bakar membentak kedua anak perempuan tadi. Nabi shallallaahu’alaihi wasallam kemudian membuka bajunya yang menutup wajahnya dan berkata : ”Biarkan mereka wahai Abu Bakar, sesungguhnya hari ini adalah hari raya”. Pada waktu itu adalah hari-hari Mina” (HR. Bukhari no.987, Muslim no.892).
Al Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengomentari hadits di atas:
وفيه دليل على إظهار السرور وأسبابه فى الأعياد
“Dalam hadits ini terdapat dalil dianjurkannya menampakkan kegembiraan dan mengupayakan sebab-sebabnya di hari Id” (Ikmalul Mu’lim, 3/307).
Bersedekah di hari raya
Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, ia berkata:
خَرَجَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ في أضْحًى أوْ فِطْرٍ إلى المُصَلَّى، ثُمَّ انْصَرَفَ، فَوَعَظَ النَّاسَ، وأَمَرَهُمْ بالصَّدَقَةِ، فَقَالَ: أيُّها النَّاسُ، تَصَدَّقُوا، فَمَرَّ علَى النِّسَاءِ، فَقَالَ: يا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ؛ فإنِّي رَأَيْتُكُنَّ أكْثَرَ أهْلِ النَّارِ
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam keluar di hari Idul Adha atau Idul Fitri ke lapangan. Ketika selesai shalat beliau berkhutbah di depan orang-orang memerintahkan mereka untuk bersedekah. Beliau bersabda: Wahai manusia, bersedekahlah. Kemudian beliau melewati para wanita beliau bersabda: wahai para wanita, bersedekahlah. Karena aku melihat kebanyakan penduduk neraka adalah wanita” (HR. Al Bukhari no.1462).
Wallahu a’lam.






Leave a comment