Ada yang setelah hijrah, serius beragama, dicoba dengan ekonomi morat marit. Nahasnya, ia tidak sabar dengan cobaan tersebut dan memutuskan untuk futur saja dan tidak lagi serius beragama.
Sudah sering kami sampaikan:
- Orang kafir yang kaya memang ada, orang kafir yang miskin juga ada.
- Ahli maksiat yang kaya memang ada, ahli maksiat yang miskin juga ada.
- Ahli taat yang morat-marit memang ada, yang kaya raya juga ada.
- Yang setelah hijrah ekonomi jadi morat-marit memang ada, namun yang rezeki lancar pun banyak.
Semua ada ujiannya masing-masing.
Maka jangan mengira bahwa hijrah yang anda lakukan itulah penyebab ekonomi morat-marit. Bukan itu! Namun ekonomi morat-marit adalah ujian dari Allah yang harus dihadapi. Anda bisa lulus melewatinya tidak?
Ataukah Anda merasa jika anda hijrah, maka lalu hidup seharusnya lancar jaya, dan Allah harus penuhi semua yang anda inginkan??
Allah Ta’ala berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, kemudian setelah itu mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al Ankabut: 2).
Sekarang renungkan, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam adalah manusia terbaik dari segala sisi. Lalu apakah kehidupan beliau lancar terus? Jawabannya: tidak. Ummul Mukminin Aisyah radhiallallahu’anha juga mengatakan:
كان يأتي علينا الشهرُ ما نوقِدُ فيه نارًا، إنما هو التمرُ والماءُ، إلا أن نؤتى باللُّحَيمِ
“Pernah kami melalui suatu bulan yang ketika itu kami tidak menyalakan api sekali pun. Yang kami miliki hanya kurma dan air. Kecuali ada yang memberi kami hadiah berupa potongan daging kecil untuk dimakan” (HR. Bukhari no. 6458, Muslim no. 2282).
Abdurrahman bin Auf radhiallahu’anhu dahulunya orang kaya. Lalu beliau hijrah ke Madinah tidak membawa kekayaan sepeserpun.
Mush’ab bin Umar radhiallahu’anhu terkenal orang kaya raya di Makkah, selalu menggunakan pakaian dan parfum yang mahal. Namun ketika hijrah ia hidup sederhana di Madinah, tanpa makanan enak atau pakaian yang bagus.
Abu Hurairah radhiallahu’anhu , yang paling banyak mencatat hadits Nabi, hidup sebagai Ahlus Shuffah yang numpang tinggal di masjid, karena tidak punya rumah.
Dan masih banyak contoh lainnya.
Namun mereka tidak ada yang meninggalkan keistiqamahan, walaupun dicoba dengan ekonomi yang morat-marit.
Kita boleh kehilangan harta benda dan kenyamanan hidup, namun jangan kehilangan keistiqamahan. Iman dan amal shalih itu modal utama kita. Jangan sampai hilang.
Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي
“Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan modalku, dan perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku” (HR. Muslim no. 2720).
Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik.
Fawaid Kangaswad | Umroh Bersama Kami: bit.ly/fawaid-umroh






Leave a comment