Para ulama Ahlussunnah mengatakan:
الإيمان يزيد وينقص يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية
“Iman itu bisa naik dan turun. Iman naik karena ketaatan, dan turun karena maksiat”.
Adapun Murji’ah meyakini bahwa iman itu tetap, tidak naik dan tidak turun. Iman seseorang tetap sempurna 100% selama ia tidak kehilangan keyakinan hati.
Sedangkan Wa’idiyyah (Khawarij, Mu’tazilah dan Zaidiyah) meyakini bahwa iman itu jika hilang satu bagian maka langsung hilang seluruhnya sehingga pemiliknya menjadi kafir.
Adapun Ahlussunnah meyakini bahwa dosa itu mengurangi iman, namun dosa besar tidak serta merta membuat iman hilang atau menjadi kafir. Dan ketaatan membuat naiknya iman.
Dalil yang mendasari bahwa iman itu naik dan turun adalah sebagai berikut.
Allah Ta’ala berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal” (QS. Al Anfal: 2).
Allah Ta’ala berfirman:
وَاِذَا مَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ اَيُّكُمْ زَادَتْهُ هٰذِهٖٓ اِيْمَانًاۚ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَزَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira” (QS. At Taubah: 124).
Allah Ta’ala berfirman:
لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِيْمَانًا
“Agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya” (QS. Al Mudatsir: 31).
Ayat-ayat di atas adalah dalil iman bisa bertambah. Mafhumnya, iman juga bisa berkurang.
Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنَ إِيمَانٍ
“Tidak akan masuk neraka orang yang masih memiliki iman seberat biji sawi” (HR. Muslim no.91).
Ini adalah dalil bahwa iman bisa berkurang sampai sekecil biji sawi.
Abud Darda radhiallahu’anhu mengatakan:
من فقه العبد أن يتعاهد إيمانه وما زاد منه وما نقص
“Termasuk tanda faqih-nya seorang hamba adalah ia memperhatikan imannya, mana yang naik dan mana yang turun” (HR. Ibnu Majah, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).
Abu Hurairah radhiallahu’anhu mengatakan:
الإيمان يزداد وينقص
“Iman itu naik dan turun” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).
Dan dalil dari ijma’ ulama, di antaranya Ibnu Abi Hatim rahimahullah mengatakan,
سألت أبي وأبا زرعة عن مذاهب أهل السنة في أصول الدين ، وما أدركا عليه العلماء في جميع الأمصار ، وما يعتقدان من ذلك ؟ فقالا : أدركنا العلماء في جميع الأمصار : حجازا ، وعراقا ، وشاما ، ويمنا ، فكان من مذهبهم : الإيمان قول وعمل يزيد وينقص ، والقرآن كلام الله غير مخلوق بجميع جهاته
“Aku bertanya kepada Bapakku dan Abu Zur’ah tentang madzhab Ahlus Sunnah dalam dasar-dasar Agama Islam dan apa yang mereka berdua ketahui tentang keyakinan para Ulama dari berbagai negeri serta apa yang mereka berdua yakini. Mereka berdua berkata, “Kami dapatkan para ulama dari berbagai negeri, baik Hjaz, Irak, Syam, Yaman, maka di antara madzhab mereka iman itu ucapan dan perbuatan, iman itu bertambah dan berkurang, serta Al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk, ditinjau dari segala sisinya”” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah, no.285).
Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.
Fawaid Kangaswad | lynk.id/kangaswad





Leave a comment